14 March 2020, 00:00 WIB

Bijak Berselancar Internet untuk Anak


Fetry Wuryasti | Teknologi

PENETRASI gawai di masyarakat Indonesia tengah dalam tren meningkat selama beberapa tahun belakangan. Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2019 menunjukkan selama 2018 penetrasi pengguna internet mencapai 64,8% atau 171,1 juta jiwa. Kontribusi pengguna tertinggi terdapat di Pulau Jawa.

Namun, tingginya penetrasi ini tidak disertai filter konten yang dapat diakses, terutama oleh anak dan remaja. Alhasil, mereka bisa dengan atau tanpa sadar kebablasan meng­akses konten yang belum sesuai dengan usianya.

Merujuk pada penelitian Uwe Hasebrink, Direktur Leibniz Institute for Media Research (2009), terdapat sisi risiko anak berhadapan dengan dunia internet. Anak sebagai penerima berpotensi mendapat konten kekerasan, sadis, pornografi, ujaran rasialisme dan kebencian, hingga iklan dan pemasaran.

Sementara itu, pada anak sebagai partisipan bisa berdampak gangguan dan kegiatan menguntit, kekerasan seksual dari orang lain, terkena pengaruh ideologi, hingga eksploitasi dan penyalahgunaan data pribadi.

Pada anak sebagai korban, internet bisa menjadi medium perisakan, kekerasan seksual, potensi konten berbahaya, sampai perjudian dan pelanggaran hak cipta.

Direktur Eksekutif ICT Watch Heru Sutadi mengatakan penggunaan gawai dan akses internet memang perlu mendapat perhatian dan bimbingan.

“Hal itu karena gawai dan internet bisa memberikan pengaruh baik dan buruk pada anak,” kata Heru saat dihubungi, Rabu (11/3).

Setidaknya harus ada batasan minimal usia anak boleh menggunakan gadget dan akses internet, serta pengawasan terus-menerus akan apa yang mereka akses dari situs-situs yang ada dan aplikasi yang diakses.

Batasan minimal penggunaan internet dan gadget pada anak harus diinisasi, utamanya dari keluarga, kemudian masyarakat, dan pemerintah.

Digital parenting

Program Director di ICT Watch Indriyatno Banyumurti menambahkan, terkait dengan digital parenting, salah satu kunci pola pengasuhan yang baik di era digital ialah komunikasi. “Yaitu bagaimana orangtua bisa menjalin komunikasi yang baik dan terbuka dengan anak,” jelas Indriyatno saat dihubungi terpisah, Rabu (11/3).

Setelah itu ialah bagaimana orangtua mau untuk terus belajar. Sebagai digital immig­rants, orangtua memang harus melakukan upaya yang lebih keras untuk adaptasi teknologi. Itu yang membuat banyak orangtua enggan, lalu mengambil jarak dari teknologi, dan bahkan membiarkan anaknya menggunakan teknologi tanpa pengawasan.

Oleh karena itu, menurutnya, literasi digital perlu dimiliki pengguna teknologi, bukan hanya anak muda, melainkan juga justru penting bagi orangtua. Literasi digital tidak hanya mampu menggunakan teknologi ini, tapi juga mengantisipasi segala dampaknya, seperti cyber crime, hoaks, pelanggaran privasi, dan konten negatif.

“Bagaimana dengan aplikasi parental control? Aplikasi ini diperlukan oleh orangtua hanya sebagai alat bantu proses digital parenting. Jadi, yang utama tetap dua, komunikasi dan terus belajar,” jelas Indriyatno.

Jadi, orangtua tidak bisa hanya mengandalkan filter anak pada aplikasi dan teknologi itu sendiri sebab semua itu hanya alat bantu. (M-2)

BERITA TERKAIT