13 March 2020, 22:52 WIB

Denny JA Raih Penghargaan Sastra Tingkat ASEAN


Cahya Mulyana | Humaniora

PRESIDEN Badan Bahasa dan Sastra Sabah, Datuk Jasni Matlani melalui surat resmi menobatkan pendiri Lembaga Survei Indonesia Denny Januar Ali sebagai satrawan. Anugerah tingkat Asia Tenggara ini dalam kategori Sastra Kemanusian dan Diplomasi ASEAN.

Denny dianggap berjasa membuat terobosan, melahirkan dan mempopulerkan puisi esai hingga ke tingkat negara ASEAN. Melalui inovasi itu, puisi melampaui fungsi tradisionalnya.

Bahkan kisah hubungan dua negara di ASEAN atau dinamika batin masyarakat di negara ASEAN bisa dikisahkan melalui puisi esai.

Puisi esai menjadi cara baru bertutur untuk meriwayatkan kisah. Sudah terbit beberapa buku dalam bentuk puisi esai yang ditulis oleh penyair Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan Thailand. Membaca puisi esai yang mereka tulis, kita membaca batin dan kultur hubungan manusia di antara negara ASEAN.

Telah terbit pula pada 2019 buku hasil lomba puisi esai tingkat ASEAN, berjudul Yang Sunyi dan Terasing. Di tahun 2019, penulisan puisi esai bahkan sudah dilombakan di negara ASEAN. "Semoga penghargaan ini ikut menjadi penanda. Bahwa tak hanya di dunia politik, bisnis dan jurnalisme, di dunia sastra pun selalu terjadi inovasi.” Demikian respon Denny JA menanggapi penghargaan tersebut dalam keterangan resmi, Jumat (12/3).

Denny juga merasa senang puisi esai yang dibidaninya bisa ikut menjembatani kerja sama budaya antar penulis negara ASEAN. "Ke depan saya akan kumpulan 10 penyair Palestina dan Israel. Mereka diharapkan mengekspresikan kisah dan mimpi hubungan dua negara itu melalui puisi esai," paparnya.

Kini Denny sedang menuntaskan 34 skenario film dari 34 provinsi tentang drama manusia dalm kearifan lokal masing masing provinsi. Ini mungking yang pertama kali terjadi, ujar Denny, serial skenario film ini semua berdasarkan puisi esai. (OL-12)

BERITA TERKAIT