13 March 2020, 23:40 WIB

Rasialisme masih Jadi Ancaman Serius


AFP/BBC/Nur/X-11 | Internasional

PERDANA Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengakui ada lebih banyak yang bisa dilakukan negaranya untuk mengatasi supremasi kulit putih.

Ini disampaikannya menjelang peringatan setahun tragedi pembantaian di sebuah masjid di Christchurch, kemarin. Seorang pria bersenjata menyerang dua masjid pada 15 Maret 2019 yang menewaskan 51 orang dalam penembakan massal terburuk di Selandia Baru.

Tersangka penyerang masjid, Brenton Tarrant, berkebangsaan Australia, akan diadili pada 2 Juni dan menghadapi tuduhan terorisme, ditambah 51 tuduhan pembunuhan, dan 40 percobaan pembunuhan.

“Selandia Baru tidak bebas dari kelompok-kelompok yang men­definisikan diri mereka sebagai esktremis supremasi kulit putih, kelompok-kelompok itu ada di sini,” katanya.

“Tanggung jawab yang kita miliki adalah untuk melawan, tidak hanya keberadaannya, tetapi juga pendahulu dari keberadaannya itu. Ada banyak lagi yang bisa kita lakukan,” tambahnya.

Ardern, yang berbicara menjelang upacara peringatan nasional pada Minggu (15/3), mengatakan cara terbaik untuk menghormati para korban ialah dengan menentang rasialisme, intimidasi, dan diskriminasi.

Ardern mengatakan serangan 15 Maret secara mendasar meng­ubah Selandia Baru dan ia berharap negaranya menjadi lebih baik.

Pernyataannya itu muncul setelah polisi menangkap seorang pria berusia 19 tahun bulan ini karena membuat ancaman terhadap salah satu masjid yang diserang tahun lalu.

“Tidak terduga bagi saya bahwa setelah semua yang dialami komunitas muslim, kami memiliki orang-orang yang (membuat) ancaman terhadap komunitas muslim kami,” katanya.

Ardern kemudian bergabung bersama dengan lebih dari 1.000 muslim dari seluruh Selandia Baru yang salat Jumat di masjid Al Noor dan masjid Linwood.

Memaafkan pelaku

Nasir Ali, yang terbang dari Auckland dengan keluarganya, mengatakan penting untuk berbagi kesedihan dan penderitaan serta menjaga ingatan tetap hidup.

“Tragedi dan ideologi ekstremis semacam ini memang ada dan kita harus terus was­pada tentang ancaman tersebut,” katanya.

Farid Ahmed, yang istrinya dibunuh pria bersenjata itu, mengatakan selama 12 bulan ia masih tidak memahami mengapa pembunuhan itu terjadi. Ia secara terbuka telah memaafkan pria bersenjata itu dan ia menolak untuk takut.

“Saya merasa saya bisa mati kapan saja dan saya tidak perlu takut karena saya sudah mendapatkan kebebasan untuk tidak takut. Tidak ada seorang pun atau tidak ada yang bisa mengambilnya,” katanya.

“Pelajarannya adalah bahwa kebencian tidak menyelesaikan masalah. Jika ada perbedaan, ada cara lain dan itu adalah cara damai. Kita harus berbicara, kita harus berdialog, kita harus saling bertanya, dan kita tidak perlu takut satu sama lain,” tambahnya. (AFP/BBC/Nur/X-11)

BERITA TERKAIT