13 March 2020, 22:17 WIB

4.600 Kasus Demam Berdarah Ancam Jabar


Bayu Anggoro | Nusantara

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Barat (Jabar) terus bertambah, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat saat ini sudah ada 4600 kasus yang terjadi di Bumi Parahiayangan.

Bahkan, 16 di antaranya harus meregang nyawa karena terlambat mendapatkan fasilitas pengobatan yang memadai.

"Kemarin malam yang  meninggal nambah satu lagi, di Kabupaten Bogor," kata Kadiskes, Jabar, Berli Hamdani, di Bandung, Jumat (13/3).

Berli menyebut, dari jumlah itu hampir semua kematian DBD diakibatkan penanganan yang kurang optimal.

"Kematiannya karena terlambat dibawa ke fasilitas nasional," katanya.

Kabupaten Ciamis menjadi yang paling banyak angka kematian akibat DBD, yakni tiga orang. Adapun daerah lainnya seperti Kabupaten Bogor (dua orang), Kota Bandung (dua orang), Kabupaten Sukabumi (dua orang), dan Kabupaten Cirebon (dua orang).

"Depok,  Kota Bogor,  Kota Sukabumi, semuanya satu (korban meninggal)," katanya. Meski begitu, Berli memastikan pihaknya belum menetapkan kejadian luar biasa (klb) karena belum terjadi di semua daerah.

"Kalau di kabupaten/kota, ada yang meninggal satu pun sudah bisa menetapkan klb," katanya.

Secara statistik, dia mengakui Jawa Barat menjadi provinsi yang paling tinggi angka kematian akibat DBD pada tahun ini.

"Kalau secara kasus NTT paling tinggi," katanya.  Dia menilai hal ini terjadi karena Jawa Barat merupakan provinsi yang paling banyak
penduduknya.

Selain itu, menurutnya hampir semua kabupaten/kota di Jawa Barat penduduknya banyak. "Jabar inikan penduduknya padat," kata dia.

Oleh karena itu, pihaknya melakukan berbagai cara agar tidak semakin banyak warga yang menjadi korban gigitan nyamuk aedes aegypti. Salah satunya dengan mengklasifikasikan daerah berdasarkan kasus yang terjadi.

Bagi daerah yang terdapat kematian dan jumlah kasusnya naik dua kali lipat dari tahun kemarin, pihaknya menetapkannya sebagai zona merah.

"Yang merah itu Kota Bogor, Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kota Bandung, Kabupaten Cirebon, Kota Tasik," katanya.

Adapun yang kuning adalah yang tidak ada kematian serta jumlah kasusnya tak naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. "Yang kuning Kota dan Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, KBB, Cimahi, Garus, Kabupaten Tasik, Sumedang, Majalengka, Indramayu, Banjar," katanya.

Selain itu, pihaknya terus menyosialisasikan gerakan hidup bersih melalui gerakan satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik). Cara
ini diyakini ampuh karena terdapat satu kader yang fokus terhadap persoalan ini. (OL-2)

BERITA TERKAIT