13 March 2020, 23:20 WIB

AS Balas Serangan Roket yang Mematikan di Irak


Nur Aivanni | Internasional

MILITER Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap kelompok pro-Iran di Irak menyusul kematian dua orang Amerika dan seorang Inggris dalam serangan roket di Irak, kata pejabat militer AS, Kamis (12/3).

Operasi itu menargetkan lima fasilitas senjata dari kelompok bersenjata Kataib Hezbollah di Irak, kata Pentagon dalam sebuah pernyataan.

“Fasilitas penyimpanan senjata ini termasuk fasilitas yang menampung senjata yang digunakan untuk menargetkan AS dan pasukan koalisi,” kata pernyataan itu, dikutip dari AFP, kemarin.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada AFP bahwa serangan tersebut dimulai pukul 01.00 dini hari waktu setempat dengan menggunakan berbagai jenis pesawat. Serangan itu merupakan operasi bersama dengan Inggris.

Seorang sumber keamanan Irak mengatakan lima rudal berat menghantam wilayah Jurf al-Sakhr di selatan Baghdad, yang dikuasai Kataib Hezbollah. Ledakan itu mengguncang rumah-rumah di dekatnya dan pasukan militer Irak di sana siaga.

“Serangan menewaskan satu warga sipil dan lima personel keamanan. Tiga dari yang tewas adalah tentara Irak dan dua adalah polisi,” kata pernyataan militer itu, seraya menambahkan bahwa 11 pejuang Irak juga terluka, beberapa dari mereka kritis.

Warga sipil itu merupakan seorang juru masak yang bekerja di bandara yang belum selesai di luar kota suci Karbala, tempat warga sipil lain juga terluka dalam penggerebekan.

Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mengatakan Amerika Serikat tidak akan menoleransi serangan terhadap rakyat, kepentingan, atau sekutu mereka.

“Seperti yang telah kami tunjukkan dalam beberapa bulan terakhir, kami akan mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk melindungi pasukan kami di Irak dan kawasan itu,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, menggambarkan serangan udara sebagai tanggapan proporsional terhadap serangan roket di selatan ibu kota, yang menewaskan dua tentara AS dan seorang tentara Inggris.

“Pasukan Inggris berada di Irak dengan mitra koalisi untuk membantu negara itu melawan aktivitas teroris dan siapa pun yang ingin melukai mereka dapat mengharapkan respons yang kuat,” kata Raab dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah Irak dengan cepat mengutuk serangan roket itu, tetapi pejabat sipil belum mengomentari serangan balasan AS lebih dari 12 jam setelah terjadi.

Kewenangan Pentagon

Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump memberi Pentagon wewenang untuk menanggapi setelah serangan roket menewaskan dua tentara AS dan seorang tentara Inggris. Hal itu sekali lagi meningkatkan ketegangan dengan Iran setelah kedua negara mencapai ambang perang awal tahun ini.

Setelah serangan balasan, Iran memperingatkan Trump agar tidak melakukan tindakan berbahaya. “Alih-alih tindakan berbahaya dan tuduhan tidak berdasar, Trump harus mempertimbangkan kembali kehadiran dan perilaku pasukannya di daerah itu,” kata juru bicara kementerian luar negeri Abbas Mousavi.

Foltyn dari Al Jazeera mengatakan masih harus melihat bagaimana kelompok-­kelompok milisi akan menanggapi serang­an balasan, tetapi serangan terbaru kemungkinan sekali lagi memicu pengusiran pasukan AS.

Komandan Pasukan Mobilisasi Populer telah keluar untuk mengutuk serangan terbaru sebagai pelanggaran kedaulatan Irak. Kataib Hezbollah merupakan salah satu kelompok milisi Irak yang membantu mengalahkan kelompok ISIL (ISIS). (AFP/Aljazeera/I-1)

 

BERITA TERKAIT