13 March 2020, 19:39 WIB

Ilmuwan UI-IPB Ungkap Jambu Biji Berpotensi Jadi Antivirus Korona


Syarief Oebaidillah | Humaniora

ILMUWAN kedokteran dan farmasi Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor (IPB) berkolaborasi untuk menemukan kandidat antivirus Covid-19 yang kini merebak di lebih dari 100 negara di dunia dan menyebabkan lebih dari 130 ribu orang terinfeksi virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok itu.

Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis big data dan machine learning dari basis data herbal DB yang dikembangkan Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI.

Anggota Tim Peneliti UI Rafika Indah Paramita mengungkapkan, ada 1.377 seyawa herbal yang diuji coba. Pemetaan farmakofor dilakukan dengan metode struktur dan ligan, kemudian dikonfirmasi hasilnya menggunakan metode pemodelan molekuler untuk dievaluasi aktivitas antivirusnya.

Dari penelitian itu, diperoleh beberapa golongan senyawa yang berpotensi untuk menghambat dan mencegah virus Sars-Cov-2 (virus corona) untuk menginfeksi manusia.

“Golongan senyawa tersebut antara lain hesperidin, rhamnetin, kaemferol, kursetin dan myricetin yang terkandung dalam jambu biji yang berdaging buah merah muda, kulit jeruk dan daun kelor, “papar Rafika Indah pada konferensi pers di FKUI RSCM Salemba Jakarta, Jumat (13/3).

Baca juga : Ini Empat Pasien Positif Korona di Indonesia yang Meninggal Dunia

Dekan FKUI Fahrial Syam menjelaskan, hasil penelitian itu merupakan analisis sementara menggunakan teknologi bioinformatika yang menyebutkan jambu biji merah punya banyak manfaat kesehatan.

"Artinya di lingkungan sekitar banyak herbal tanaman dan tumbuhan yang memberi manfaat bagi masyarakat. Hal ini kami sampaikan agar masyarakat tidak perlu panik karena di sekitar kita banyak tersedia tumbuhan atau herbal bermanfaat bagi kesehatan kita semua,” ujarnya.

Ia menegaskan, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan khasiat jambu biji merah sebagai antivirus Covid-19. Di sisi lain, kerja sama dengan kalangan industri pun diperlukan.

Di sisi lain, ia mengingatkan, masyarakat juga perlu mengedepankan perilaku hidup bersih dan sehat seperti anjuran Kementerian Kesehatan dan Organnisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Diantara perilaku hidup bersih dan sehat itu, antara lain ajin mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk atau bersin, menggunakan masker bagi yang sakit flu atau batuk, dan bila mengalami gejala Covid-19 mendatangi rumah sakit terdekat yang telah ditunjuk Kemenkes atau banyak berdiam diri di rumah. (OL-7)

 

BERITA TERKAIT