13 March 2020, 15:00 WIB

AS Balas Serangan Roket Mematikan di Irak


Nur Aivanni | Internasional

MILITER Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap kelompok pro Iran di Irak, menyusul kematian dua orang warga AS dan seorang warga Inggris dalam serangan roket di Irak.

Melalui pernyataan resmi, Pentagon mengungkapkan operasi tersebut menargetkan lima fasilitas senjata dari kelompok bersenjata Kataeb Hezbollah di Irak. "Fasilitas penyimpanan senjata ini menampung senjata yang digunakan untuk menargetkan AS dan pasukan koalisi," bunyi pernyataan tersebut.

Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mengatakan pihaknya tidak akan mentolerir serangan terhadap rakyat, kepentingan, maupun sekutu.  "Seperti yang telah kami tunjukkan dalam beberapa bulan terakhir. Kami akan mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk melindungi pasukan di Irak dan kawasan," ujar Esper dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya, Esper memperingatkan "semua opsi ada di atas meja" untuk membalas kematian tiga tentara, akibat rentetan serangan 18 roket di pangkalan udara Taji pada Rabu (11/3) waktu setempat.

Baca juga: Pemimpin Dunia Kecam Serangan Rudal Iran

Serangan di pangkalan udara Taji menyasar fasilitas AS di Irak, termasuk kedutaan AS. Ini merupakan serangan ke-22 sejak akhir Oktober lalu. Sementara itu, tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Washington menyalahkan faksi yang didukung Iran dari jaringan Hashed al-Shaabi atas kekerasan serupa belum lama ini.

Empat belas lainnya terluka dalam serangan pangkalan udara Taji, termasuk warga AS, Inggris dan Polandia. Seorang pejabat AS menyatakan serangan tersebut dimulai pukul 01.00 pagi waktu setempat, dengan menggunakan berbagai jenis pesawat. Itu merupakan operasi khusus AS, bukan operasi koalisi.

Kepada AFP, seorang sumber keamanan Irak menyatakan lima rudal berat menghantam wilayah Jurf al-Sakhr di selatan Baghdad, yang dikuasai Kataeb Hezbollah. Ledakan itu mengguncang area permukiman di dekatnya. Pasukan militer Irak pun bersiaga. Serangan roket telah memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan baru antara AS dan Iran.(AFP/OL-11)

 

BERITA TERKAIT