13 March 2020, 08:28 WIB

Candi Ngampon Semarang Bangkitkan Ekonomi Warga


Akhmad Safuan | Nusantara

CANDI Hindu Ngempon yang terletak di Kelurahan Ngempon, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tidak terlalu banyak dikenal publik maupun wisatawan. Namun keberadaannya telah membangkitkan gairah ekonomi warga sekitar dengan semakin banyaknya wisatawan berkunjung.

Ditemukan pertama kali pada tahun 1952 oleh seorang warga bernama Kasri, Candi Ngempon secara visual hampir mirip dengan candi-candi Hindu lainnya seperti Gedongsongo msupun Dieng. Namun dari sembilan candi yang ada hanya empat unit candi yang direkontruksi oleh Dinas Purbakala secara bertahap.

Namun sayang candi yang berjarak sekitar 2 kilometer dari ruas jalan Semarang-Yogyakarta ini tidak banyak dikenal publik. Hanya wisatawan lokal yang tiap hari menyambangi dan umumnya bukan untuk menyaksikan candi, tetapi hanya sekedar mandi air panas (belerang) yang ada di sekitar candi.

"Setiap hari tidak kurang 100 orang datang ke sini baik dengan mengendarai sepeda motor atau mobil. Mereka rata-rata hanya untuk berendam di air panas," ujar Parmin, penjaga karcis, Jumat (13/3)

Areal Candi Ngampon yang diberi pagar kawat setinggi 2,5 meter dapat dikunjungi pada pukul 09.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB dengan membayar karcis masuk Rp4.000 per orang.

Pintu gerbang memasuki areal candi baru dibuka penuh, ketika ada kegiatan keagamaan di lokasi ini. Datangnya wisatawan lokal setiap hari untuk menikmati mandi air panas alami, menjadikan ekonomi warga perkampungan sekitar tumbuh. Selain menarik retrebusi melintasi kampung dengan mobil dikenai Rp4.000, dan roda dua Rp2.000, warga memanfaatkan keramaian dengan mendirikan warung kuliner dan toko kerajinan.

"Dulu kami hanya mengandalkan sawah yang tidak terlalu besar untuk hidup. Tetapi setelah ramainya orang datang baik melihat candi maupun mandi air panas, kami sekarang mengandalkan usaha warungan," ujar Harni, 55 seorang pemilik warung di Dusun Derekan.

Bupati Semarang Munjirin mengatakan dalam upaya meningkatkan jumlah wisatawan di daerah ini, pembenahan obyek wisata terus dilakukan. Bahkan Pemkab Semarang telah mengucurkan anggaran yang mencapai puluhan miliar setiap tahunnya. Candi tersebut mampu memberikan kontribusi hingga 19% pendapatan daerah yang mencapai
Rp487,686 miliar.

baca juga: Pemerintah Fokus Cegah DB Jadi KLB

Umpan balik dari semua ini, lanjut Munjirin, adalah hidupnya perekonomian daerah karena semua kegiatan penunjang wisata hidup dan berkembang.

"Usaha Kecil dan Menengah akan hidup ditengah-tengah kemajuan pariwisata, seperti kuliner, kerajinan rakyat, perhotelan dan lainnya," ujar Munjirin. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT