13 March 2020, 07:20 WIB

Salam Korona Menjangkiti Pejabat Negara


Indriyani Astuti/P-2 | Politik dan Hukum

UPAYA menghindari penularan virus korona yang menyebabkan wabah covid-19 mengubah beberapa kebiasaan masyarakat yang juga dipraktikkan petinggi dunia. Kini berjabat tangan dan berpelukan mulai ditinggalkan, berganti dengan salam korona, demikian mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebutnya.

Dalam Instagram pribadinya, @jusufkalla, JK--sapaan akrab pria kelahiran Watampone Sulawesi Selatan itu--mengunggah foto dirinya dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saling mempertemukan siku.

'Salam Corona dengan @smindrawati', tulis JK.

Momen tersebut diabadikan para staf dan media ketika JK dan Sri Mulyani bertemu di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, kemarin.

Kunjungan Sri Mulyani ke Kantor Wapres selaku Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI). Adapun Jusuf Kalla sebagai dewan pengarah.

Sebelumnya, Wakil Presiden Ma'ruf Amin juga melakukan tipe lain dari salam korona. Cara bersalaman itu dengan menangkupkan kedua telapak tangan tanpa bersentuhan dengan telapak tangan orang lain.

"Saya minta maaf kalau terpaksa salamannya pakai 'salaman korona'," ujar Wapres yang disambut tawa peserta Musyawarah Nasional V Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi) di Mataram, NTB, pada Rabu (11/3).

Ketika bertemu dengan Sri Mulyani dan JK, Wakil Presiden Ma'ruf Amin kembali memakai salam tersebut. "Kalau tadi pakai siku, Bah," ujar Sri Mulyani menyapa Wapres dengan sebutan Abah.

Salam siku juga dilakukan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva ketika bertemu Presiden Bank Dunia David Malpass beberapa waktu lalu. Demikian pula saat bersalaman dengan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko tidak ketinggalan. Meski begitu, ia menyebut Presiden Joko Widodo tidak mempraktikkannya.

Salam siku dianggap sebagai cara aman untuk mencegah penularan virus korona. Meski begitu, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus tidak sependapat.

Menurut Tedros, salam siku masih membutuhkan interaksi berjarak kurang dari 1 meter yang memungkinkan penularan virus korona.

"Saya suka menempatkan tangan ke jantung (dada) saat memberi salam," cicit Tedros dalam akun Twitter-nya, @DrTedros.

Wabah virus korona juga berdampak dalam kehidupan keagamaan. Sejumlah gereja, masjid, dan kuil mengubah tata cara ibadah guna menahan penyebaran covid-19. (Indriyani Astuti/P-2)

BERITA TERKAIT