13 March 2020, 05:30 WIB

Kehadiran Wajah Baru dan Wajah Lama


(Mal/Faj/GPBlog/PlanetF1/Motorsport/R-3) | Fokus

VIETNAM akan bersukaria pada 5 April mendatang karena untuk pertama kalinya ikut menyelenggarakan ajang Formula 1 (F1). Negara tersebut kini menjadi negara ketiga di Asia Tenggara yang menjadi tuan rumah ajang F1 setelah Malaysia dan Singapura.

Namun, kekhawatiran telah melanda negara itu sejak awal tahun ini karena rencana jadi tuan rumah terancam gagal akibat wabah virus korona. Apalagi, berbagai persiapan telah dilakukan, seperti penyempurnaan sirkuit yang memiliki panjang lintasan hingga 5,56 km.

Kebijakan pencegahan penyebaran korona pun telah dibuat dan disebutkan bahwa siapa pun yang datang dari Italia, Tiongkok, dan Korea Selatan, akan dikarantina selama 14 hari. Itu dipandang cukup menyulitkan karena peserta F1 banyak juga yang berasal dari Italia, misalnya, Ferrari dan Alpha Tauri.

Walau demikian, lebih baik mengarantina ketimbang melarang masuk. Pasalnya, pihak F1 baru-baru ini mengancam bakal membatalkan sebuah seri di satu negara jika tuan rumah melarang masuk satu peserta saja ke wilayahnya. Dengan adanya kebijakan itu, tentu kemungkinan besar GP Vietnam akan berlangsung sesuai jadwal.

Selain Vietnam, Belanda akan kembali meramaikan F1 setelah sempat absen sejak 1985. Pada 3 Mei mendatang, ajang F1 bakal digelar di Sirkuit Zandvoort yang dijanjikan bakal menyuguhkan sensasi berbeda dengan desain trek yang dilengkapi dua tikungan miring yang tidak dimiliki sirkuit lainnya.

Hal itu diungkapkan pembalap Red Bull, Max Verstappen, yang telah menjajal Sirkuit Zandvoort. "Jadi, yang pertama mencoba sirkuit baru ialah kesempatan yang luar biasa dan Zandvoort sangat keren. Jauh lebih baik dari sebelumnya," kata Verstappen.

Di sisi lain, kehadiran GP Vietnam dan GP Belanda mengundang pro dan kontra dari sejumlah pembalap dan konstruktor. Musim ini, terhitung ada 22 seri, termasuk GP Tiongkok yang diputuskan untuk ditunda. Jumlah itu terbanyak dalam sejarah F1. Jika tidak ada GP Vietnam dan GP Belanda, F1 tahun ini hanya akan memiliki 20 seri.

Bos Ferrari, Mattia Binotto, mengaku setuju dengan 22 seri balapan pada musim ini meski ia mengaku harus ada yang dikorbankan. "Kami mendukung jika itu berarti lebih banyak pendapatan, tetapi kita harus berhati-hati pada biaya, biaya tambahan," katanya.

Sementara itu, bos Red Bull Racing Christian Horner juga mengutarakan hal senada. Namun, ia memberikan catatan dalam 22 seri balapan harus diiringi dengan peningkatan alokasi penyediaan mesin. Dari yang sebelumnya hanya tiga mesin, jadi empat mesin.

Bos divisi mesin Mercedes Andy Cowell mengatakan timnya sedang bekerja keras untuk mengatasi masalah transmisi dengan unit daya baru saat pramusim berlanjut. Ia mengatakan sistem pemulihan elektronik dan pembakaran internal menjadi fokus utama dalam mengarungi balapan yang padat.

Dari pembalap, Max Verstappen merasa 22 seri balapan sudah sangat banyak dan padat. "Saya bukan tidak menyukainya, tapi karena itu akan sangat sibuk. Saya pikir harus ada waktu untuk kehidupan di luar F1," ungkap Verstappen. (Mal/Faj/GPBlog/PlanetF1/Motorsport/R-3)

BERITA TERKAIT