12 March 2020, 21:49 WIB

BMKG Pantau Gempa Susulan di Sukabumi


Ferdian Ananda Majni | Nusantara

KEPALA Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengatakan, tim Survei Makroseismik yang diterjunkan ke Sukabumi akan memasang beberapa portable digital seismograph untuk memonitor aktivitas gempa susulan.

"Kita memonitor gempa susulan, kita memasang portable digital seismograph di lapangan, dekat langsung sumber gempa jadi walaupun kecil-kecil (gempa) harapannya bisa mendeteksi," kata Rahmat dihubungi Media Indonesia, Kamis (12/3).

Baca juga:Raja dan Ratu Belanda Terkesima Tari Tortor

Dia menjelaskan, pemasangan itu dilakukan di beberapa titik lokasi. Tim BMKG membawa tiga unit portable untuk jangkau beberapa kilometer per satu titik pemasangan tersebut.

"Saya belum tahu di lapangan, biasanya di dekat sumber itu akan dipasang," sebutnya.

Selain itu, ada penambahan dua unit portable digital seismograph yang dibawa oleh BMKG Bandung dan Ciputat. Katanya, kemungkinan ada 5 unit yang akan dipasang di beberapa titik.

BMKG juga melakukan sosialisasi untuk kepada masyarakat dengan memberikan penjelasan seputar mitigasi gempa bumi, cara selamat saat terjadi gempa, dan upaya menenangkan masyarakat

"Kita sosialisasi, mengingatkan pentingnya membangun bangunan tahan gempa, apalagi sejarahnya di situ pernah terjadi beberapa kali gempa, supaya masyarakat termasuk pemerintah daerah menerapkan building code untuk daerah rawan gempa," paparnya.

Sebelumnya, Gempa tektonik M=5,1 yang mengguncang wilayah Sukabumi pada Selasa petang 10 Maret 2020 pukul 17.18 WIB dipicu oleh aktivitas sesar aktif.

Baca juga:Masyarakat Diminta Tak Berlebihan Sikapi Pandemi Korona

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan, hasil analisis menunjukkan bahwa gempa ini diakibatkan oleh aktivitas slip atau pergeseran blok batuan kulit bumi secara tiba-tiba.

"Dari bentuk gelombang gempanya (waveform) tampak jelas adanya gelombang gesernya (shear) cukup nyata dan kuat. Selisih waktu tiba catatan gelombang P (pressure) dan S (shear) hanya 6 detik, yang menunjukkan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa lokal (local earthquake)," kata Rahmat, Kamis (12/3).

Menurutnya, gempa semacam ini biasa dikenal sebagai gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu aktivitas sesar aktif. Titik episenter gempa ini terletak pada koordinat 6,81 LS dan 106,66 BT tepatnya di darat berlokasi di wilayah Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi.

Lokasi stasiun seismik terdekat pusat gempa yang mencatat gempa ini adalah stasiun seismik Palabuhan Ratu dengan kode PJSM. Stasiun seismik ini adalah stasiun monitoring gempa yang baru saja di bangun BMKG pada tahun 2019 lalu.

"Keberadaan sensor seismik baru ini memiliki andil dalam menambah akurasi parameter gempa hasil analisis BMKG," sebutnya.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan mendatar (strike-slip fault). Rahmat menambahkan, berdasarkan kondisi geologi dan tataan tektonik di wilayah Jawa Barat bagian selatan ada dugaan bahwa sesar ini memiliki pergeseran ke kiri (left lateral). (Fer/A-3)

BERITA TERKAIT