13 March 2020, 04:30 WIB

Perbankan masih Kuat Hadapi Guncangan


Hilda Julaika | Ekonomi

PERBANKAN Indonesia masih memiliki bantalan permodalan yang cukup dalam menghadapi kondisi ekonomi yang memburuk akibat wabah virus korona baru (covid-19)

Ekonom Bank BCA, David Sumual, menilai fundamen perbankan masih cukup kuat ditinjau dari rasio kecukupan modal (CAR) yang saat ini mencapai sekitar 23%.

"Saya pikir nggak ada masalah untuk perbankan dan sektor finansial. Kalau terjadi sesuatu kan yang paling dilihat sisi permodalan. Saya pikir dengan CAR sekitar 23% sudah lebih dari cukup. Kredit macet (NPL) bank pun terhitung rendah," ujarnya kepada Media Indonesia, kemarin.

Selain itu, Indonesia sudah memiliki kelembagaan yang baik di sektor keuangan. Ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Kondisi itu lebih baik ketimbang saat krisis ekonomi pada 1997 dan 2008.

"Institusi kita sudah lengkap, ada LPS, OJK, BI, dan KSSK. Kita punya undang-undang juga sebagai jaring sistem pengaman keuangan. Secara fundamen perbankannya lengkap dan lebih baik jika dibandingkan dengan di 2008 atau 1997," tandasnya.

Dengan kondisi seperti sekarang ini, yang perlu dilakukan ialah langkah pemerintah memberikan terobosan kebijakan, terutama kebijakan dari segi finansial. Hal itu sudah terlihat dengan adanya pemberlakuan relaksasi terhadap sejumlah peraturan.

Kepala Departemen Pengawasan Bank 3 OJK, Anung Herlianto, mengatakan OJK akan memberikan stimulus berupa relaksasi kelonggaran penilaian kualitas aset kredit dengan plafon sampai Rp10 miliar.

Dengan relaksasi tersebut, bank hanya perlu memenuhi satu pilar berupa ketepatan membayar saja dari total tiga pilar untuk melakukan penilaian kualitas kredit.

Sebelumnya penilaian kualitas kredit debitur didasarkan pada tiga pilar, yaitu ketepatan pembayaran pokok atau bunga, prospek usaha debitur, dan kondisi keuangan debitur.

Adapun untuk pendanaan di atas Rp10 miliar, bank akan diberikan kewenangan untuk melakukan restrukturisasi kredit.

Namun, diingatkan bahwa stimulus ini hanya diperuntukkan debitur-debitur yang terdampak langsung oleh wabah korona, seperti sektor transportasi, pariwisata, dan pertambangan.

Hantaman harga minyak

Dalam kesempatan berbeda, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, menilai perang harga dagang minyak dunia yang dipantik Arab Saudi dan Rusia diprediksi merembet pada naiknya tingkat kredit macet atau non performing loan (NPL) perbankan nasional.

Sebab, imbuh Piter, jebloknya harga minyak dunia acap kali mengekor pada penurunan harga komoditas.

"(Dampaknya) Besar, karena ekonomi turun, demand turun, harga komoditas dipastikan turun. Jadi berdampak pada ekonomi kita sulit untuk rebound. NPL diyakini bisa naik lagi," ujarnya.

Ancaman potensi meningkatnya NPL, sambung Piter, telah dicermati dengan baik oleh OJK dengan memberikan relaksasi.

"Ancaman NPL itu sangat besar. Kalau dibiarkan seperti itu, nanti akan menghambat penyaluran kredit," tukasnya. (Ham/E-1)

BERITA TERKAIT