13 March 2020, 03:45 WIB

Pembersihan Pembangkit Nuklir Fukushima Terus Berjalan


(Nur Aivanni/X-11) | Internasional

SEMBILAN tahun sudah bencana tsunami di Jepang memicu kebocoran pembangkit nuklir Fukushima Daiichi. Hingga kini, pembersihan dan penonaktifan berlanjut di fasilitas yang lumpuh tersebut.

AFP diberikan akses langka ke ruang kontrol reaktor dan bagian lain dari pabrik untuk menyaksikan pembersihan tersebut.

Ketika memasuki ruang kontrol, pengunjung harus mengenakan pakaian yang ditujukan untuk zona kuning, yakni setelan pelindung, tiga pasang sarung tangan, tiga pasang kaus kaki, sepatu bot, masker wajah, dan helm.

Pakaian tersebut tidak melindungi dari radiasi, tetapi dimaksudkan untuk membatasi debu radioaktif yang masuk ke tubuh.

Peralatan kontrol yang berasal dari era 1970-an masih ada di ruangan itu meskipun lama tidak dapat digunakan.

Sementara itu, bahan bakar cair tetap berada di dasar reaktor, sejauh ini hanya diakses oleh robot.

Pompa digunakan untuk mengurangi jumlah air yang melimpah masuk ke pabrik. Air yang terkontaminasi di pabrik melewati sistem penyaringan untuk mengurangi radioaktivitas.

Setelah penyaringan, air masih mengandung sejumlah besar tritium, yang tidak dapat dihilangkan dengan teknologi saat ini.

Kelompok seperti Greenpeace percaya bahwa air itu harus disimpan dalam jangka panjang sampai teknologi dikembangkan untuk menyaringnya lebih lanjut. Namun, opsi tersebut ditolak Jepang.

Secara resmi, ada dua pilihan utama untuk penanganan masalah air tersebut, yakni penguapan ke udara atau membuangnya ke laut.

Badan Energi Atom Internasional mengatakan opsi-opsi itu layak, tetapi para nelayan dan petani setempat sangat menentangnya. Mereka khawatir langkah tersebut akan berdampak pada mata pencarian mereka.

Setiap hari antara 4.000 dan 5.000 pekerja melewati pabrik Fukushima Daiichi. Sebagian besar dari mereka merupakan karyawan atau subkontraktor pengelola pembangkit. Pada puncak pembangunan dinding es yang sulit, jumlahnya sebanyak 8.000 orang.

Tugas para pekerja dari membangun tangki hingga membuang bahan bakar bekas menggunakan crane yang dikendalikan dari jarak jauh. Sementara itu, yang lainnya mengelola logistik luar biasa yang terlibat dalam penyediaan, pengawasan, dan pembuangan alat pelindung. (Nur Aivanni/X-11)

BERITA TERKAIT