13 March 2020, 02:30 WIB

Si Merah Terdampak Taktik Parkir Bus


Rahmatul Fajri | Sepak Bola

KEJAYAAN Liverpool di Anfield berakhir sudah. Adalah Atletico Madrid yang menghentikan rekor fantastis 'Si Merah', julukan Liverpool, jika tampil kandang.

Menjadi tim tamu pada leg kedua babak 16 Liga Champions kemarin dini hari, Atletico Madrid meraih kemenangan 3-2 melalui masa perpanjangan waktu. Kemenangan itu membuat Atletico Madrid lolos ke perempat final dengan agregat 4-2 setelah di leg pertama menang 1-0.

Bagi Liverpool, ini menjadi kekalahan pertama setelah di 25 laga sebelumnya di semua kompetisi tidak terkalahkan dengan raihan 23 kemenangan dan 2 kali imbang. Di Liga Champions, Liverpool terakhir kali menelan kekalahan di kandang saat dibekap Real Madrid 0-3 pada Oktober 2014.

Bagi Liverpool dan para pendukungnya, kegagalan lolos ke perempat final memang terasa menyakitkan. Memiliki peluang besar membalikkan ketertinggalan setelah unggul 2-0 melalui gol Georginio Wijnaldum (43') dan Roberto Firmino (94') di masa perpanjangan waktu, publik Anfield terdiam setelah Atletico mampu mencetak tiga gol di 25 menit waktu tersisa melalui Marcos Llorente (97' dan 105') serta Alvaro Morata (120').

Seusai laga, pelatih Liverpool Juergen Klopp tidak bisa menyembunyikan kekecewaan atas kegagalan ini. Pelatih asal Jerman itu mengkritik taktik parkir bus alias bertahan yang diterapkan Atletico Madrid.

"Sangat sulit bermain melawan tim seperti ini. Saya tidak mengerti dengan kualitas yang mereka miliki, mereka bisa bermain dengan layak, tapi mereka memilih bertahan cukup dalam dan mengandalkan serangan balik," kata Klopp.

Secara statistik, Liverpool memang jauh mendominasi laga dengan catatan 66% penguasaan bola dan 35 percobaan mencetak gol dengan 12 di antaranya tepat sasaran. Namun, rapatnya pertahanan yang digalang Felipe dan Stefan Savic, plus penampilan apik kiper Jan Oblak di bawah mistar Atletico Madrid membuat Liverpool hanya mampu mencetak dua gol.

Disinggung soal taktik parkir bus, pelatih Atletico Madrid Diego Simeone tidak mau ambil pusing. Pelatih asal Argentina itu menyebut timnya hanya berpikir untuk menang dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. "Kami bermain untuk menang dengan senjata yang kami miliki. Kami mampu mengeksploitasi kesalahan yang dibuat lawan," kata Simeone.

 

Menang di kandang

Di laga lain, ambisi Thomas Tuchel membawa Paris Saint Germain (PSG) ke perempat final tercapai. Menjamu Borussia Dortmund di Parc des Princes pada laga leg kedua, PSG menang 2-0 melalui gol Neymar (28') dan Juan Bernat (45').

Hasil ini membuat PSG lolos ke babak delapan besar dengan agregat 3-2 setelah di leg pertama kalah 1-2. Ini menjadi kali pertama PSG lolos ke perempat final setelah selalu terhenti di babak 16 besar pada tiga edisi terakhir Liga Champions.

"Atmosfer tim sangat bagus sebelum tampil dalam laga penuh tekanan ini. Tim menunjukkan semangat luar biasa di lapangan. Saya sangat senang," ungkap Tuchel. (AFP/R-1)

BERITA TERKAIT