13 March 2020, 00:05 WIB

NF Suka Baca Novel Bertema Psikopat


MI | Megapolitan

TIM dokter RS Polri Kramatjati masih membutuhkan waktu untuk menyimpulkan kejiwaan NF, 15, tersangka pembunuh APA, 5, yang merupakan tetangganya di Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Kepala Tim Dokter Jiwa Forensik RS Polri Henny Riana mengatakan dalam empat hari ini pihaknya masih mengumpulkan data-data dan terus memantau perkembangan NF.  

“Kami masih melakukan pemeriksaan, mengumpulkan data, dan saat ini belum masuk pada tahap pengambilan kesimpulan,” cetusnya. Dalam prosesnya tim dokter juga menganalisa media gambar yang dibuat NF.

Langkah ini bagian dari evaluasi penilaian karena perasaan NF sulit dilihat hanya melalui ekspresi wajah. Saat berbicara dengan Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait di RS Polri, Kamis (12/3), NF mengaku gemar menonton film berbau kekerasan melalui gawai dan suka membaca buku novel bertema psikopat.

Pada kesempatan itu, NF tidak segan-segan menyatakan ingin memiliki boneka horor Chucky setelah membaca novel My Psikopat Boy Friend. Selama mengobrol NF tidak menangis dan menyadari perbuatannya telah menghilangkan nyawa orang lain dan minta agar dihukum ringan.

NF mengakui telah menarik diri dari lingkungan tempat tinggalnya. Ia lebih asyik bermain gadget atau membaca novel ketimbang bermain bersama anak-anak sebayanya.
Remaja yang sehari-hari rajin membantu ibunya tersebut kini mengisi waktu di ruang isolasi dengan menggambar.
“Semua gambarnya tentang perempuan. Ada gambar-gambar yang menjadi target,” ucap Arist Merdeka Sirait.

NF berada di satu ruangan khusus tanpa teman. “Tapi dia sangat enjoyed. Dia suka menggambar, disediakan kertas. Tapi semua gambarnya berorientasi perempuan dan sadis. Menurut pengalaman empirik kami, gambar itu akan dia praktikkan. Biasanya, seperti itu anak yang punya sifat sadistis dan mengarah psikopat,” bebernya.

Arist mengingatkan para orangtua agar memerhatikan materi yang ditonton atau dibaca anak agar dapat dicegah sebelum perilakunya berubah.

“Ada peristiwa yang membuat anak ini bisa punya perilaku sadistis. Pengaruh dan kontribusi bisa datang dari sekitar anak itu, apakah dari rumah atau lingkungan sosialnya,” tuturnya. (Sru/J-2)

 

BERITA TERKAIT