12 March 2020, 16:53 WIB

Pesan dari Bekas Pasien Korona; Jangan Panik !


Adiyanto | Weekend

ELIZABETH Schneider tinggal di Seattle, salah satu kota terbesar di Washington, Amerika Serikat. Perempuan 37 tahun yang bergelar Phd di bidang bioengineering ini termasuk salah satu pasien terinfeksi korona yang berhasil pulih.

Di AS, kini ada 1.100 kasus korona,  30 di antaranya meninggal dunia. Schneider beruntung selamat, apalagi dari jumlah korban yang meninggal, kebanyakan warga Seattle. "Jangan panik. Waspada harus dan upayakan jangan keluar rumah jika kalian merasa sakit," tegasnya. Pesan ini disampaikan Schneider kepada semua warga dunia yang kini khawatir dengan pandemi korona. Dia kini merawat dirinya sendiri di rumah.

Minggu ini, otoritas kesehatan AS yang mengutip data dari Tiongkok mengatakan 80 % kasus korona yang ditemukan tergolong ringan, sedangkan sisanya kasus serius yang memerlukan rawat inap, terutama pasien di atas 60 tahun dan orang-orang dengan penyakit penyerta seperti diabetes, jantung, atau penyakit paru-paru.

Schneider pertama kali merasakan gejala mirip flu pada 25 Februari, tiga hari setelah ia pergi ke sebuah pesta, yang kemudian diidentifikasi sebagai tempat di mana setidaknya lima orang lainnya juga terinfeksi.

"Saya bangun dan merasa lelah, tetapi itu tidak lebih dari apa yang biasanya Anda rasakan ketika Anda harus bangun dan pergi bekerja. Saya memang sangat sibuk akhir pekan sebelumnya," katanya kepada AFP dalam sebuah wawancara Rabu (11/3).

Namun, pada tengah hari, Schneider merasakan sakit kepala, demam, dan nyeri pada sekujur tubuhnya. Dia lantas memutuskan untuk meninggalkan kantor perusahaan bioteknologi tempat dia bekerja sebagai manajer pemasaran, dan pulang ke rumah.

Setelah bangun dari tidur siang, Schneider mendapati suhu tubuhnya tinggi, yang mencapai 103 derajat Fahrenheit malam itu (39,4 Celcius).

"Dan pada saat itu, saya mulai menggigil tak terkendali, dan saya merasa kedinginan dan kesemutan, jadi itu sedikit mengkhawatirkan," katanya.

Dia kemudian mengonsumsi obat-obatan flu yang dijual bebas untuk mengobati gejalanya dan memanggil seorang teman untuk berjaga-jaga jika dia perlu dibawa ke ruang gawat darurat. Tetapi, demamnya berangsur surut dalam beberapa hari berikutnya.

Namun, beberapa hari kemudian, Schneider menemukan sebuah postingan di Facebook seorang temannya, bahwa beberapa orang yang datang ke pesta semuanya mengalami gejala yang sama. Schneider pun mulai curiga.

"Beberapa dari orang-orang ini pergi ke dokter dan dinyatakan negatif flu, tetapi mereka tidak ditawari tes coronavirus karena mereka juga tidak batuk atau mengalami kesulitan bernapas.

Schneider lalu memutuskan untuk mendaftar dalam program penelitian yang disebut Seattle Flu Study, berharap itu dapat memberikan jawaban. Tim peneliti mengiriminya alat swab hidung (pengambil sampel dari hidung), yang dikirimkannya kembali dan menunggu beberapa hari lagi.

"Saya akhirnya mendapat telepon dari salah satu koordinator penelitian pada hari Sabtu (7 Maret), memberi tahu saya bahwa 'Anda telah dinyatakan positif terkena COVID-19,'" katanya.

"Saya sedikit terkejut, karena kupikir itu agak keren," aku Schneider, tertawa, meskipun ibunya menangis ketika dia memberitahunya.

"Memang, saya mungkin tidak akan merasa seperti itu jika sakit parah," katanya. "Tapi dari perspektif keingintahuan ilmiah, saya pikir itu sangat menarik. Dan juga fakta bahwa saya akhirnya mendapatkan konfirmasi bahwa itulah yang saya alami."

Saat ini, gejala yang dialami Schneider sudah mereda, dan dia diberitahu oleh otoritas kesehatan setempat untuk tetap di rumah selama setidaknya tujuh hari, setelah timbulnya gejala atau 72 jam setelah mereda.

Sekarang Schneider telah dinyatakan pulih. Dia sudah mulai keluar untuk beberapa keperluan, tetapi masih menghindari pertemuan dengan banyak orang dan memutuskan bekerja dari rumah.

Schneider berharap pengalamannya mungkin dapat menghibur dan menyemangati orang lain. "Pesan saya, jangan panik. Jika kamu berpikir bahwa kamu tertular, kamu mungkin harus mengetesnya. Tapi, jika gejalanya tidak mengancam jiwa, sebaiknya tetap saja di rumah, berobat dengan obat biasa, minum banyak air dan banyak istirahat," ujarnya. (M-4)

 

 

 

BERITA TERKAIT