12 March 2020, 15:02 WIB

Pelaku Pembunuh Balita, NF Memohon tidak Dihukum Berat


Sri Utami | Politik dan Hukum

TERSANGKA NF,15, pelaku pembunuhan balita di Sawah Besar, Jakarta Pusat, menyesal melakukan perbuatannya dan minta dihukum ringan.

"Dia tahu konsekuensi hukumannya, dia tahu akan dihukum tetapi dia minta supaya tidak dihukum berat karena kasihan ibu," ujar Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA), Arist Merdeka Sirait, saat mengunjungi NF di rumah sakit Polri Jakarta Timur, Kamis (12/3).

Menurut Arist, secara fisik kondisi NF sehat dan masih dilakukan assessment psikologis di Rumah Sakit Polri Jakarta Timur selama 14 hari. Komnas Perlindungan Anak harus memastikan NF dalam kondisi baik untuk menjalani rangkaian proses hukum.

"Kondisinya dalam keadaan baik dan tentu ini harus betul-betul diobservasi secara baik supaya kalau pun polisi nantinya akan memeriksa si adik kita ini atau si pelaku dengan baik dengan kondisi anak yang juga baik," ucapnya.

Arist menuturkan kasus yang dilakukan NF baru pertama kali terjadi di Indonesia. Dalam hal ini pelaku yang masih berusia anak juga menjadi korban yang membentuk perilaku bengis.

"Memang ada peristiwa yang membuat anak ini menjadi punya perilaku sadistis ada pengaruh dan kontribusi di sekitar anak itu bisa juga rumah,lingkungan sosial anak itu juga berkontribusi membuat anak menjadi perilaku seperti ini," tuturnya.

Saat berbicara langsung NF mengakui kegemarannya membaca dan menonton film yang berbau kekerasan melalui gawai dan buku novel bertema psikopat. Bahkan dia berkeinginan memiliki boneka horor Chucky setelah membaca novel My Psikopat Boy Friend.

"Dia akui bahwa dia senang dengan boneka yang menurut dia bisa berkomunikasi dengan boneka chucky itu dan sebagainya," imbuhnya, Kamis (12/3).

Selama mengobrol NF tidak menangis dan menyadari sudah menarik diri dari lingkungan tempat tinggalnya sehingva tidak pernah lagi bermain bersama anak-anak sebayanya.

"Saya tanya secara serius bahwa dia sudah menarik diri dalam lingkungan sosialnya dia tidak lagi akrab dengan teman-teman di kampung. Itu ciri-ciri anak yang tergantung dengan gadget," ucap Arist.

Dalam proses penanganan dokter kejiwaan dan juga isolasi NF tidak banyak melakukan aktivitas. Gadis yang rajin membantu ibunya tersebut mengisi waktunya dengan menggambar.

"Dia menggambar semua gambarnya perempuan. Jadi ada gambar-gambar yang menjadi target," ucap Arist.

Tim dokter kejiwaan RS Polri menyediakan kertas dan alat gambar. Dari hasil gambar tersebut akan diketahui informasi yang menerangkan kondisi psikologi NF.

"Dia berada di satu ruangan khusus tidak ada temannya. Tapi dia sangat enjoyed. Dia suka menggambar, disediakan kertas. Tapi semua gambarnya berorientasi perempuan dan sadis. Menurut pengalaman empirik kami gambar itu akan dia praktikkan. Biasanya, itu adalah anak yg punya sifat sadistis dan mengarah psikopat," tukasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT