12 March 2020, 16:30 WIB

Penelitian Sebut Tak Ada Bukti COVID-19 dapat Menular ke Janin


Melalusa Susthira K | Weekend

WABAH virus corona atau COVID-19 yang kian meluas memunculkan kekhawatiran dalam berbagai aspek. Salah satu yang mungkin ikut dikhawatirkan ialah dampak penyebaran COVID-19 terhadap janin yang dikandung oleh perempuan yang sedang hamil. Namun menurut penelitian terbaru yang dikeluarkan oleh Royal College of Obstetricians and Gynecologists (RCOG) Inggris, tidak ada bukti bahwa virus dapat menular ke janin selama masa kehamilan dan wanita hamil tampaknya tidak terlalu rentan terjangkit gejala COVID-19 yang parah.

Mengutip The Guardian, wanita hamil sejatinya mengubah sistem kekebalan tubuh, yang dapat membuatnya berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi parah jika terkena virus seperti flu. Beberapa penyakit pernapasan juga dapat menyebabkan penyakit kritis pada janin yang dikandung saat usia kehamilan muda. Namun berdasarkan data yang ada, disebutkan tak satu pun dari pola tersebut terlihat pada paparan virus COVID-19.

“Selama beberapa minggu dan bulan mendatang, kemungkinan wanita hamil di Inggris akan dinyatakan positif mengidap COVID-19. Sementara data terbatas saat ini, meyakinkan bahwa tidak ada bukti bahwa virus dapat menular ke bayi selama kehamilan," terang Presiden Royal College of Obstetricians and Gynecologists Inggris, Edward Morris yang menambahkan bahwa penelitiannya akan terus ditinjau secara berkala ketika ada bukti baru muncul.

Pedoman itu didasari pada pengamatan dari Tiongkok, termasuk laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang melihat data dari 147 perempuan hamil,  dengan 64 di antaranya dikonfirmasi terjangkit virus COVID-19, 82 suspected COVID-19, dan satu kasus tanpa gejala COVID-19. Dari jumlah tersebut, 8% di antaranya memiliki gejala parah dan 1% di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Adapun sebuah penelitian terpisah yang dimuat di jurnal Lancet, mengamati 9 perempuan hamil yang telah dites positif COVID-19 di Wuhan, Tiongkok, tempat wabah tersebut berasal. Tim menemukan bahwa pada saat kelahiran melalui operasi caesar, semua bayi dalam keadaan sehat dan tidak ada bukti virus terdapat dalam ASI, darah tali pusat, maupun cairan ketuban ibu yang melahirkan bayi.

Presiden Royal College of Paediatrics and Child Health, Prof Russell Viner pun mengatakan berdasarkan bukti saat ini, tidak direkomendasikan untuk memisahkan bayi yang baru dilahirkan dengan ibunya yang dites positif mengidap COVID-19.

"Dampak dari pemisahan ini, meskipun sebagai tindakan pencegahan, dapat menjadi hal yang signifikan pada bayi dan ibu. Kami akan meninjau rekomendasi ini sebagaimana kami akan melihat lebih banyak bukti di minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang. Ada juga bukti terbatas tentang penularan coronavirus melalui ASI - dan berdasarkan apa yang kita ketahui sekarang, kita merasakan manfaat menyusui lebih penting dari risiko potensial yang ada,” jelas Russell. (M-1)

BERITA TERKAIT