12 March 2020, 12:27 WIB

Jokowi: Ekstensifikasi Padi masih Bisa Dilakukan


Andhika Prasetyo | Politik dan Hukum

PRESIDEN Joko Widodo mengungkapkan upaya ekstensifiksi padi atau upaya peningkatan produksi melalui perluasan lahan, masih sangat mungkin dilakukan di Indonesia. Ia menyebut masih terdapat banyak daerah di Tanah Air yang memiliki lahan potensial untuk diubah menjadi sawah dan menghasilkan tanaman padi.

"Negara kita masih punya lahan yang sangat luas untuk membuka pertanian baru. Saya kasih contoh di Kalimantan Tengah, ada Kabupaten Pulang Pisau," ujar Jokowi saat membuka The 2nd Asian Agriculture Food and Forum yang diinisiasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/3).

Ada satu juta hektare (ha) lahan gambut di wilayah tersebut yang telah disiapkan pemerintah. Dari total seluas itu, 300 ribu ha berhasil dikembangkan secara baik. Hanya saja, berupa lahan gambut, perlu ada penanganan secara khusus yang tentunya berbeda dengan penggarapan lahan sawah konvensional.

"Bibit apa yang pas dengan lahan gambut. Disiapkan juga infrastruktur irigasinya. Saya kira ini fungsi HKTI untuk menyelesaikan persoalan seperti itu," tuturnya.

baca juga: Jokowi Ikut Buru Empon-empon

Saat percobaan tanam pertama, presiden mengatakan hasil panen setiap hektare (ha) hanya 500 kilogram, tidak sampai satu ton. Namun, pada percobaan tanam kedua dan ketiga, hasil panen mampu tumbuh hingga mencapai 4,5 ton per ha. Dengan keberhasilan itu, Jokowi menginginkan adanya penerapan dalam skala yang lebih besar dan serius dengan melibatkan korporasi-korporasi petani.

"Kalau 4,5 ton dikali 300 ribu ha, hitung saja berapa tambahan baru setiap panen. Itu baru di Pulang Pisau saja. Mestinya ini yang jadi perhatian HKTI. Tahun depan bisa surplus beras sekian ton. Itu yang saya tunggu," tandas dia. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT