12 March 2020, 12:00 WIB

Kenali Tanda-Tanda Orang Ingin Bunuh Diri Dengan Jelajah Jiwa


Siswantini Suryandari | Humaniora

Dr dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ atau akrab disapa NoRiYu mengajak masyarakat untuk menghapus stigma tentang kasus bunuh diri. Sebaliknya ia mengajak masyarakat bisa mencegah bunuh diri ini

Hal itu diungkapkan Nova Riyanti saat meluncurkan buku berjudul elajah Jiwa Hapus Stigma: Autopsi Psikologis Bunuh Diri Dua Pelukis, di Pacific Place, Rabu (11/3).

Buku tersebut merupakan tesisnya berjudul Aspek Biopsikososial Tindakan Bunuh Diri Pada Dua Orang Pelukis di Yogyakarta, yang ia perjuangkan untuk meraih gelar doktor pada Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa, FKUI.

Dalam buku itu, anggota DPR RI periode 2009-2014 ini mengangkat keterkaitan seniman dengan tindakan bunuh diri. Ia menyebutkan dalam tesis yang kemudian dijadikan buku itu, t kasus dua seniman lukis di Yogyakarta bunuh diri.

Ia menyinggung tidak hanya dua seniman itu yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ada sejumlah orang terkenal yang juga memilih menyudahi hidup dengan berbagai cara. Seperti urt Cobain, Ernest Hemingway, Virginia Woolf, dan Sylvia Plath.

"Dan termasuk kedua pelukis yang saya jadikan studi kasus." kata Nova Riyanti.

Nova menjelaskan bahwa kedua seniman ini tidak memiliki sejarah bunuh diri dalam keluarganya. Namun semua tindakan bunuh diri terkait pada masalah kejiwaan.

"Kedua seniman diduga mempunyai beragam stresor, yang terkait dengan karya seni (lukisan), hubungan pribadi dengan kekasih, dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat kedua seniman memutuskan untuk bunuh diri," ujarnya.

Beberapa warning signs diantaranya adalah menjelang bunuh diri menunjukkan karya lukis yang depresif. Di sini NoRiYu menggunakan teknik triangulasi dengan melakukan analisis lukisan bersama kurator lukis, budayawan dan psikiater Eugen Koh dari The Dax Centre, University of Melbourne pakar art and healing.

Hal itulah yang menjadi dasar NoRiYu menjadikan tesisnya sebagai buku dengan judul Jelajah Jiwa Hapus Stigma: Autopsi Psikologis Bunuh Diri Dua Pelukis.

Selain NoRiYu, sejumlah pembicara dihadirkan dalam peluncuran buku tersebut yakni  Prof Byron Good, Antropolog di Departemen Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial Harvard Medical School, Hana Madness seorang pelukis, aktivis kesehatan mental dan Ratih Ibrahim, psikolog klinis dan Direktur Personal Growth. Sudjiwo Tejo juga tampil memainkan saxophone dengan tema kesepian.

NoRiYu berharap masyarakat bisa mencegah terjadinya aksi bunuh diri apabila bisa mengamati tanda-tanda atau perilaku seseorang yang ingin bunuh diri.

"Saya ingin masyarakat peduli menjelajah jiwa manusia dalam lingkup terdekat kita sendiri. Serta menghapus stigma sehingga bunuh diri bisa dicegah," pungkasnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT