12 March 2020, 09:20 WIB

RS Penuh, Pasien DBD pun Rawat Jalan


(Alexander P Taum/X-6) | Nusantara

Gabriel Langga, 32, mulai panik. Warga Wolombetan, Kelurahan Nangalimang, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, itu berikhtiar melarikan anaknya, Maria Febronia Gisela, ke RS TC Hillers Maumere setelah anaknya yang berusia tiga tahun itu menderita panas tinggi.

Oleh dokter, Gisela divonis terserang demam berdarah dengue (DBD). Kepanikan ayah Gisela itu beralasan. Dokter menyatakan sudah tidak ada tempat lagi di ruang rawat inap di RSUD TC Hiller Maumere. Ruangan rawat inap di RSUD TC Hiller sangat padat. Saking padatnya, dua pasien berbagi satu tempat tidur. Ada pula pasien terpaksa harus dirawat di lantai rumah sakit dengan beralaskan tikar karena tempat tidur yang disediakan RS sudah tidak muat. Pasien membeludak.

Meski RSUD TC Hillers Maumere sudah penuh, dokter tidak kehilangan akal. Ia pun menyarankan agar Gisela dirawat di rumah saja. Dokter di RSUD itu meyakinkan Gabriel bahwa petugas medis dari Puskemas Kopeta, Kecamatan Alok, akan merawat dan memantau perkembangan anaknya selama dirawat di rumah.

"Setiap hari perawat Puskemas Kopeta selalu mengecek keadaan anak. Setiap jam mereka telepon tanya perkembangan anak," ujar Gabriel, kemarin. Wabah DBD di Sikka yang telah menelan banyak korban jiwa menyebabkan Gabriel cemas. Apalagi, anaknya harus rawat jalan di rumah. Kecemasan Gabriel menjadi-jadi ketika mengetahui cairan infus yang biasanya digunakan untuk menaikkan trombosit habis. Terpaksa, ia harus mendesak anaknya untuk menelan obat-obatan. "Bisa minum obat, tetapi harus paksa, Pakai paksa baru minum, sampai menangis, karena hanya itu cara untuk bisa sehat kembali," ujar Gabriel.

Selama Gisela rawat jalan, darahnya diperiksa empat kali sehari. Gabriel harus bolak-balik dari rumah ke puskesmas memeriksakan darah, mengecek trombosit, hingga mengambil obat. Ia terus berkomunikasi dengan petugas medis yang giat menanyakan perkembangan anak melalui telepon. "Jujur wabah ini sudah bawa korban, itu membuat saya ketakutan. Apalagi ini anak pertama. Karena cemas, saya selalu cek juga di dokter dan menceritakan kondisinya. Selain itu, hasil pemeriksaan lab juga saya konsultasi dengan dokter," ujar Gabriel. Beruntung, setelah Gabriel enam hari berjuang memerangi sakit DBD, anak semata wayangnya itu akhirnya dinyatakan sembuh. (Alexander P Taum/X-6)

BERITA TERKAIT