12 March 2020, 08:45 WIB

Korona Jadi Pandemi, Pasar Saham Merosot


Nur Aivanni | Internasional

PASAR saham di AS anjlok pada Rabu (11/3), dengan kerugian yang dipercepat setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah virus korona sebagai pandemi. Dikutip dari BBC, Kamis (12/3), Dow Jones jatuh hampir 1.500 poin atau lebih dari 5,8%, sementara S&P 500 turun 4,9% dan Nasdaq turun 4,7%. Penurunan terjadi karena penyebaran virus korona telah mengguncang ekonomi global.

Kekhawatiran tentang penyakit tersebut telah mengganggu manufaktur, mendorong penutupan dan pembatalan yang meluas, dan membuat orang tetap berada di rumah. Pada Rabu (11/3), Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak meluncurkan paket £ 30 miliar, sementara Bank of England melakukan pemotongan darurat suku bunga.

Namun, Gedung Putih dan Kongres belum mencapai kesepakatan untuk bantuan ekonomi, setelah usulan Presiden AS Donald Trump tentang pemotongan pajak untuk pekerja gagal mendapatkan dukungan yang luas.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin pada Rabu mengatakan bahwa pemerintah berharap untuk memperpanjang tenggat waktu untuk pembayaran pajak, menutupi biaya cuti sakit untuk staf yang terpaksa tinggal di rumah, dan memberikan jaminan pinjaman untuk industri yang terkena dampak seperti maskapai penerbangan.

"Kami tidak hanya fokus pada masalah kesehatan, tetapi juga masalah ekonomi," katanya.

Pekan lalu, The Fed melakukan pemangkasan suku bunga darurat pertama sejak krisis keuangan dalam upaya menjaga agar uang tetap mengalir. Pergerakan tersebut terjadi seiring penyebaran virus korona yang  dengan cepat mengatur ulang outlook pertumbuhan global tahun ini.

baca juga: Italia Tutup Semua Toko, Kecuali Toko Makanan dan Apotek

Ekonom di IHS Market mengatakan pertumbuhan global kemungkinan akan melambat menjadi 1,7% tahun ini, turun dari 2,5% yang diperkirakan bulan lalu. Perusahaan itu memperingatkan bahwa wabah itu kemungkinan akan mendorong Eropa, yang sudah mengalami pertumbuhan rendah, ke dalam resesi dan mengurangi pertumbuhan AS menjadi 1,8%.

"Penyebaran global epidemi Covid-19 adalah risiko tunggal terbesar yang dihadapi ekonomi dunia pada awal 2020," kata perusahaan itu. (BBC/OL-3)

 

BERITA TERKAIT