12 March 2020, 09:15 WIB

Jaga Pariwisata TN Gunung Rinjani melalui Kearifan Lokal


Syarief Oebaidillah/H-1 | Humaniora

SEJAK peristiwa gempa tektonik yang menimpa Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Juli 2018, kawasan wisata di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang berada di bawah koordinasi Balai TNGR Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan jeda sejenak. Upaya membangkitkan pariwisata mengemuka dengan menghidupkan kembali kearifan lokalnya.

Tokoh pemangku adat Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Sukrati, 46, mengutarakan harapannya agar tradisi Sambe bagi pengunjung dihidupkan kembali guna menghormati kearifan lokal wilayah itu yang sempat menghilang. "Tradisi Sambe adalah penghormatan kepada para wisatawan atau pendaki Gunung Rinjani dengan memberi daun sirih di kening sebagai penanda sebelum masuk hutan Rinjani," kata Sukrati saat ditemui tim Balai TNGR dan wartawan di kediamannya di rumah adat Senaru, Selasa (10/3) petang.

Menurut Sukrati, para tokoh adat sudah sepakat menghidupkan kembali tradisi tersebut guna menjaga kelestarian lingkungan serta kearifan lokal. "Jika wisatawan dan pendaki Rinjani telah diberi tanda melalui ritual Sambe, para leluhur penunggu gunung akan mengenal dan tidak mengganggu mereka serta menjaga kestabilan alam sekitar," ujar Sukrati.

Tokoh pemuda adat Bayan lainnya, Putra Anom, yang juga Ketua Kelompok Tani Desa Sambik Elen, menjelaskan bahwa menjaga kearifan lokal dan gotong royong yang kuat, saling berbagi, merupakan nilai adat yang terus dijaga masyarakat Senaru. Dalam membangun destinasi wisata mereka bersinergi dengan Balai TNGR membentuk kelompok sadar wisata, membangun homestay, kuliner, budi daya madu, serta paket agrowisata kebun porang dan kopi.

Di kesempatan itu, Tenaga Ahli Menteri LHK Pramu Risanto didampingi Budi Soesmardi, Koordinator Kehati Wisata Kerja Sama dan Perizinan Balai TNGR meminta pengelola TNGR mengampanyekan hal positif dengan melibatkan dan memberdayakan kalangan anak muda lokal. "Berdayakan anak muda lokal karena akan positif menularkan potensi baik TNGR ke kalangan lainnya," kata Pramu.

Kepada kedua tokoh adat Bayan itu, Pramu Istanto meminta agar warganya siap mental manakala menerima kedatangan wisatawan yang mempunyai adat budaya berbeda. "Jadi kami mengapresiasi upaya menjaga kearifan lokal yang memberdayakan warga setempat," tukasnya. (Syarief Oebaidillah/H-1)

BERITA TERKAIT