11 March 2020, 23:49 WIB

Pemerintah Tiongkok Gratiskan Biaya Tes dan Perawatan Korona


Nur Aivanni | Internasional

WABAH virus korona telah menyebar ke lebih dari 100 negara, dengan Italia, Iran dan Korea Selatan muncul sebagai negara yang paling parah terkena dampaknya di luar Tiongkok.

Italia melaporkan ada lebih dari 10.000 kasus infeksi virus korona dan disusul oleh Iran dan Korea Selatan. Sementara itu, wabah di Tiongkok sendiri yang merupakan awal mula penyakit tersebut muncul kini menurun, dengan hanya 19 kasus infeksi baru pada Selasa (10/3).

Karena virus korona terus menyebar di seluruh dunia, ada satu pelajaran penting dari Tiongkok bagi pemerintah lainnya dalam memerangi penyakit tersebut. Yakni, pemerintah harus siap untuk membayar biaya tes dan perawatan bagi pasien.

Dikutip dari South China Morning Post, Rabu (11/3), jurnal Manajemen Rumah Sakit Tiongkok melaporkan pada 28 Februari, tes virus korona dilaporkan menelan biaya sekitar 370 yuan (US$ 53) di Tiongkok. Dan di kota Shenzhen selatan, biaya rata-rata untuk mengobati penyakit tersebut berkisar dari 23.000 yuan untuk pasien lanjut usia hingga sekitar 5.600 yuan untuk anak di bawah umur.

Beberapa metode pengobatan negara seperti oksigenasi membran ekstrakorporeal yang terbilang mahal, tetapi semuanya ditanggung oleh pemerintah, yang telah mengalokasikan 110,48 miliar yuan untuk perawatan, subsidi untuk staf medis dan peralatan medis.

Sementara itu, di AS, yang memiliki 25 kematian di antara 696 kasus yang dikonfirmasi muncul kecemasan publik mengenai biaya pengujian virus korona.

Pemerintah AS tidak mengenakan biaya untuk tes konfirmasi virus korona di laboratorium yang ditunjuk, tetapi perjalanan ke rumah sakit akan dikenai biaya besar lainnya, dalam satu kasus lebih dari US$ 3.200.

Grup asuransi Amerika, Health Insurance Plans, mengatakan bahwa orang-orang perlu memeriksa penyedia asuransi mereka untuk pertanggungan biaya yang terkait dengan Covid-19.

Hingga Senin, hanya 1.707 orang telah diuji oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS. Lebih banyak tes yang mungkin dilakukan, jumlah infeksi juga bisa lebih besar, menurut penelitian baru Cedars-Sinai, yang memperkirakan antara 1.043 dan 9.484 orang di AS mungkin telah terinfeksi pada 1 Maret.

Pada Januari, Korea Selatan mengumumkan bahwa pemerintah dan perusahaan asuransi akan menanggung biaya yang terkait dengan pemeriksaan, isolasi dan perawatan bagi pasien virus korona. Negara ini telah memperluas stasiun pengujian untuk memasukkan layanan drive-through dan menguji sekitar 15.000 orang per hari.

Jepang juga melakukan hal yang sama. Pemerintah akan menanggung biaya tagihan rawat inap terkait infeksi virus korona. Di Inggris, sekitar 18.000 orang telah menerima tes virus korona secara gratis sejak bulan lalu, dan 373 telah dikonfirmasi terinfeksi.

Dirk Pfeiffer, ketua profesor One Health di City University’s Jockey Club College of Veterinary Medicine and Life Science, mengatakan keterjangkauan akan menghalangi upaya pengendalian epidemi.

“Jelas, di mana pun Anda harus membayar untuk perawatan kesehatan, individu dengan gejala ringan pada kelompok berpenghasilan rendah akan ragu untuk pergi ke fasilitas perawatan kesehatan, dan itu mungkin juga terjadi pada beberapa individu dengan penyakit parah. Perilaku ini akan memperluas epidemi," katanya.

Namun, dia mengatakan pengujian yang agresif juga tidak realistis di sebagian besar negara dan jarak sosial akan terus menjadi langkah mitigasi risiko yang paling penting.

Ni Feng, direktur Institute of American Studies di Chinese Academy of Social Science, mengatakan bahwa Tiongkok dan AS memiliki kondisi yang berbeda. Maka itu, mereka menggunakan strategi yang berbeda.

Tetapi, keberhasilan Tiongkok dalam mengendalikan epidemi dapat menjadi peluang yang baik untuk kedua negara untuk bekerja sama. (South China Morning Post/OL-8)

BERITA TERKAIT