11 March 2020, 20:30 WIB

BMKG Utus Tim Survei Petakan Sesar AKtif di Sukabumi


Zubaidah Hanum | Nusantara

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) langsung mengirim tim ke zona gempa di Sukabumi, Jawa Barat, kemarin, untuk memetakan sebaran dampak kerusakan bangunan dan memonitor aktivitas gempa susulan.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, survei lapangan yang akan dilakukan BMKG mencakup makroseismik guna memetakan sebaran dampak kerusakan bangunan (berat, sedang, ringan). "Data ini penting untuk validasi peta shakemap yang dipublikasikan BMKG," sebut Rahmat dalam keterangan resminya, Rabu (11/3).

Selain itu, imbuhnya, BMKG juga akan memasang beberapa portable digital seismograpf untuk memonitor aktivitas gempa susulan. BMKG juga melakukan sosialisasi untuk kepada masyarakat dengan meberikan penjelasan seputar mitigasi gempabumi, cara selamat saat terjadi gempa, serta menenangkan masyarakat.

Gempa tektonik M=5,1 yang mengguncang wilayah Sukabumi pada Selasa, 10 Maret 2020 pukul 17.18.04 WIB dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Titik episenter gempa ini terdeteksi di koordinat 6,81 LS dan 106,66 BT tepatnya di darat berlokasi di wilayah Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi.

Akibat gempa, sedikitnya, 17 rumah rusak berat 15 rumah rusak sedang 17 rumah rusak ringan di Kecamatan Kalapanunggal, 2 rumah rusak sedang di Kecamatan Parakansalak, 1 rumah rusak di Kecamatan Cidahu, dan beberapa rumah rusak ringan di Kecamatan Kabandungan. Data itu dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat.

Guncangan gempa juga dirasakan di Cikidang, Ciambar, Cidahu dalam skala intensitas IV - V MMI yang membuat warga berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Sementara, di Panggarangan, Bayah, Sukabumi dalam skala intensitas III MMI dimana guncangan dirasakan seperti ada truk berlalu.

Rahmat menjelaskan, gempa Sukabumi ini termasuk gempa tipe II, dimana gempa diawali dengan gempa pendahuluan, selanjutnya terjadi gempa utama, dan kemudian diikuti gempa susulan. Sebelum terjadi gempa utama (main shock) dengan magnitudo M=5,1 pada pukul 17.18.04 WIB, didahului aktivitas gempa pendahuluan (foreshock) dengan magnitudo M=3,1 pukul 17.09 WIB. Setelah terjadi gempa utama, selanjutnya diikuti gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo M=2,4 pada pukul 18.06 WIB.

Dua pelajaran penting

Dari kasus gempa di Sukabumi ini, Rahmat mengungkapkan, ada dua pelajaran penting yang diambil. Pertama, di wilayah Indonesia ternyata masih banyak sebaran sesar aktif yang belum teridentifikasi dan terpetakan strukturnya dengan baik. "Identifikasi dan pemetaan sesar aktif ini sangat penting untuk kajian mitigasi dan perencanaan wilayah," cetusnya.

Kedua, sambung Rahmat, adalah mewujudkan bangunan tahan gempa. Ini penting karena banyaknya korban sebenarnya bukan disebabkan oleh gempa, tetapi timbul korban akibat bangunan roboh dan menimpa penghuninya. "Membuat bangunan rumah tembok asal bangun tanpa besi tulangan atau dengan besi tulangan dengan kualitas yang tidak standar justru akan menjadikan penghuninya sebagai korban jika terjadi gempa," pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT