11 March 2020, 22:05 WIB

Banyak Faktor Pengaruhi Tindakan Remaja Pembunuh Anak


tri subarkah | Megapolitan

OBSERVASI terhadap NF, 15, remaja yang membunuh anak berinisial APA berusia 5 tahun di Jakarta Pusat memasuki hari ketiga. Observasi untuk mengetahui kejiwaan pelaku tersebut dilakukan di RS Polri Kramat Jati sejak Senin (9/3).

Menurut Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati Kombes Sumy Hastry Purwanti, banyak faktor yang mempengaruhi perbuatan NF sampai akhirnya membunuh AP, yang notabene merupakan tetangganya sendiri.

Dari hasil pemeriksaan pihak kepolisian, pelaku diketahui melakukan pembunuhan tersebut tanpa rasa penyesalan.

"Ini lagi didalami, karena penyebab itukan (pembunuhan) bisa berbagai macam penyebabnya," kata Sumy di RS Polri, Rabu (11/3).

Sumy menyebut beberapa faktor yang dapat memicu tindakan pelaku, antara lain genetik, faktor lingkungan, faktor kebiasaan pelaku yang gemar nonton film yang menyeramkan.

"Tergantung juga aspek kepribadian dia bagaimana, apakah dia anak yang gampang bersosialisasi, punya teman banyak dan lingkungan keluarganya dilihat juga," sambungnya.

Selain itu, tim dokter juga melakukan pengamatan terhadap pertumbuhan otak pelaku untuk dikaitkan dengan tindakannya.

"Apakah (otak) dia tumbuh sempurna atau tidak, yang membuat dia merasa baik hati, penolong, empati itu tumbuh atau tidak, nah ini lagi diteliti dan didalami bagian otak itu," terang Sumy.

"Makanya sekarang dia lagi diperiksa setiap hari, setiap waktu, didekati, lengkaplah pemeriksaannya, tidak secara fisik saja, tapi secara laboratorium," tandasnya.

Kekinian, Polres Metro Jakarta Pusat telah menetapkan NF sebagai tersangka. Sebelumnya, pihak kepolisian masih menyematkan status saksi terhadap NF meskipun remaja tersebut sudah menyerahkan diri dan mengaku telah melakukan perbuatannya.

Sebelumnya, peristiwa pembunuhan tersebut terjadi pada Kamis (5/3) di rumah pelaku di daerah Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Polisi menemukan hal-hal yang dinilai tidak wajar dalam kasus tersebut. Dari hasil pemeriksaan, misalnya, penyidik menggambarkan tidak ada perasaan menyesal dari pelaku terhadap perbuatannya.

Selain itu, polisi juga menemukan beberapa gambar yang menceritakan kekerasan dan pembunuhan. Gambar-gambar tersebut diketahui terinspirasi dari film horor dan berbau kekerasan yang juga menjadi kesukaan pelaku. (OL-8)

BERITA TERKAIT