12 March 2020, 05:05 WIB

Dampak Korona belum Ubah Target Pelindo II


M Iqbal AM | Ekonomi

PT Pelabuhan Indonesia II (persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) tidak mengubah target pendapatan meskipun aktivitas bongkar muat pelabuhan sudah mulai terdampak akibat virus korona.

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II Arif Suhartono mengatakan target perusahaannya melayani bongkar-muat peti kemas masih dipatok 8,1 juta TEUs pada tahun ini.

"Perdagangan Tiongkok dan Indonesia terdampak wabah virus korona. Dampaknya sudah ada. Ada beberapa terminal yang menurun aktivitasnya karena kapalnya dari Tiongkok," ungkap Arif di sela penandatanganan kerja sama PT Pelabuhan Indonesia II dengan Port of Rotterdam dari Belanda, kemarin. Kerja sama tersebut di bidang pengembangan logistik maritim dan infrastruktur.

Arif mencontohkan PT Jakarta International Container Terminal (JICT) di Tanjung Priok yang aktivitasnya saat ini sudah turun 10%, baik untuk impor maupun ekspor.

Meski demikian, PT Pelabuhan Indonesia II masih belum mengubah target sambil melihat perkembangan ekonomi dalam 2-3 bulan mendatang.

"Targetnya sementara ini belum diubah, tapi kita lihat dua sampai tiga bulan ke depan seperti apa. Saya dengar kabarnya pabrik-pabrik di Tiongkok sudah mulai produksi lagi," tandasnya.

Jika hingga Juni dampak penyebaran virus korona makin memburuk, pihaknya akan mengumpulkan para pemegang saham untuk bahas rolling budget.

Pada 2019 kinerja PT Pelabuhan Indonesia II berhasil melayani 7,6 juta TEUs dan diharapkan pada 2020 ini bisa mencapai 8,1 juta TEUs.

 

Turun 50%

Dari Batam, Kepulauan Riau, aktivitas ekspor dan impor di Pelabuhan Batuampar menurun sekitar 50% sebagai imbas dari wabah korona.

"Kegiatan di pelabuhan sudah pasti turun. Perkiraan kami mungkin 50% karena banyak bahan baku industri yang berasal dari Tiongkok," kata Ketua Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Batam, Osman Hasyim, kemarin.

Selama ini, industri manufaktur di Batam bergantung pada bahan baku dari Tiongkok. Sejak wabah virus korona meluas, distribusi bahan baku melalui Pelabuhan Batuampar mulai tersendat.

Selain itu, kesulitan bahan baku membuat produksi di Batam juga terhambat sehingga ekspor pun terganggu.

Meski begitu, ia menyatakan optimistis kondisi tersebut segera berlalu jika pemerintah dan pelaku usaha setempat jeli melihat peluang.

Batam, kata dia, memiliki peluang di bidang maritim yang besar. Apabila pemerintah membuat kebijakan yang tepat, hal itu dapat mengubah kondisi negatif menjadi positif.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Bebas Batam, Muhammad Rudi, juga mengakui penyebaran virus korona sangat berdampak pada kegiatan usaha di pelabuhan.

"Kami berharap masalah virus ini bisa selesai sehingga bisa meningkatkan kembali kegiatan usaha, khususnya di Batam," kata Rudi.

BP Batam sengaja mengumpulkan pelaku usaha di pelabuhan untuk mendengarkan langsung kendala yang dihadapi, sekaligus mencari solusinya. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT