11 March 2020, 20:48 WIB

Dampak Korona Diprediksi Lebih Dahsyat Ketimbang Krisis 2008


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Ekonomi

CHAIRMAN ASEAN India Business Council sekaligus Board Member East Asia Business Council Shaanti Shamdasani memprediksi dampak virus korona atau Covid-19 terhadap terhadap perdagangan dunia akan lebih besar daripada saat Tiongkok dilanda wabah SARS. Ia bahkan mengatakan jika masih terjadi hingga April, kondisi perekonomian Indonesia akan lebih parah dari 2008.

Hal ini menurutnya karena hampir 20% output dunia berasal dari Tiongkok. Sedangkan 13% perdagangan dunia dari Tiongkok. "Kekurangan bahan baku sangat terasa, apalagi 60-70% bahan baku Indonesia diimport dari China. Kita lihat sampai bulan April,jika masih terjadi kita akan masuk krisis yang dampaknya lebih parah ke 2008," kata Shaanti dalam diskusi bertajuk Dampak Virus Corona Terhadap Ekonomi RI di kediaman Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Kuningan Jakarta Selatan, Rabu (11/3).

Ia menambahkan, saat ini perekonomian Tiongkok yang melambat 5% akibat korona, hal ini berisiko menurunkan pertumbuhan Indonesia sekitar 0,3 -0,5 %. Bahkan jika dilihat, nilai ekspor maupun impor menurun jika dibandingkan Januari 2019. "Ekspor menurun 3,71% sedangkan impor 4,78%," lanjutnya. Mengingat China adalah mitra dagang terbesar Indonesia, maka sektor manufaktur akan terdampak lebih besar,' tandasnya.

Pada 2019, pemerintah berhasil menjaga daya beli dan permintaan domestik sehingga konsumsi rumah tangga tumbuh 5.04%. Pertumbuhan investasi juga mencapai 4.45%.

Tetapi, ia menegaskan virus korona bukanlah satu-satunya pengaruh menurunnya pertumbuhan ekonomi, terdapat tripple bubble. Jika sebelumnya pada 2008 familiar dengan The US Housing Buble yang menghargai rumah murah di Amerika, kini ada tiga bubble yang berpengaruh. " Pertama teknology bubble, dimana-mana orang bisa akss lewat aplikasi. Kedua burning money, banyak investor tapi tidak pegang aset dan ketiga trade gap. Ketiga bubble itu meletus didepan kita," katanya.

Sementara itu Thomas Hartono Wakil Ketua Umum GP Jamu sekligus board Member Asean BAC dan President Business Association: China, Jepang, Korea, Rusia mengatakan kenaikan harga sudah terjadi dibeberapa produk farmasi dan alat kesehatan seperti masker, obat-obatan, infus dan lainnya "Untuk jamu, permintaan memang banyak tidak akan terpengaruh dengan efek perekonomian paska korona karena bahan bakunya ddari Indonesia," kata Thomas.

Shaanti kemudaian memina kepada pemerintah untuk tidak menaikan harga terlebih dahulu karena langsung imbas kepada masyarakat. "Apalagi gas elpiji 3 kg, atau listrik jangan ada kenaikan harga dari segi apapun," kata Shaanti. Ia juga mengatakan pemerintah harus releks kepada pajak. "Pemerintah agak releks dulu dalam hal mencari sumber pajak yng baru karena yang dibutuhkan sekarang adalah untuk masyarakat memutarkan uang. Kalau uang lari ke pajak, pengeluaran akan susah. Kita harus menstimulus cara membelanjaan," katanya.

Lebih jauh Shaanti mengungkapkan kelangkaan pasokan bahan baku dari Negara Tirai Bambu ini bisa diatasi dengan pemetaan kembali negara penyedia produk impor bagi Indonesia yan kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan industri. (OL-8)

BERITA TERKAIT