11 March 2020, 18:46 WIB

DKI Petakan Resiko Infeksi Korona di Transportasi Publik


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta sedang melakukan proses pemetaan risiko potensi penularan virus korona (Covid-19) melalui transportasi publik.

Salah satu moda transportasi publik yang dipetakan antara lain Kereta Rel Listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuterline Indonesia (KCI).

Hal itu diketahui dari foto paparan persentase dalam rapat yang diketahui berlangsung pagi ini di Gedung Blok G Balai Kota DKI. Dalam foto yang beredar tersebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kepada jajarannya dalam rapat tertutup menyebut risiko kontaminasi terbesar terjadi di KRL pada rute Bogor-Depok-Jakarta Kota.

Hal ini disebabkan rerata tempuh dari lokasi tinggal pengidap Covid-19 menggunakan transportasi publik memakan waktu sekitar 55 menit.

Namun demikian, dalam keterangannya kepada media, Anies memastikan bahwa dirinya telah mengumpulkan seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov DKI, pihak kepolisian, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan seluruh stakeholder terkait transportasi publik untuk ikut melakukan langkah pembatasan.

"Di ruang transportasi itu disiapkan, (diimbau untuk) minimalkan interaksi langsung. Kemudian disinfektan, hand sanitizer itu semua disiapkan. Juga Thermo Gun (untuk mengecek suhu tubuh pelanggan)," kata Anies dalam konferensi pers.

Ketika dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta Eva Chairunisa menjelaskan bahwa antisipasi terkait potensi risiko penularan Covid-19 di KRL terus berjalan seiring koordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta.

"Peta pemetaan penyebaran Covid-19 tidak ada, mungkin yang dimaksud risiko potensi. Iya, itu (risiko kontaminasi terbesar terjadi di KRL Bogor-Depok-Jakarta Kota) memang betul," jelasnya.

Eva lebih lanjut menerangkan sudah ada kordinasi dari PT KAI Daop 1 bersama manajemen KRL dan Pemprov DKI terkait hal ini. Karena area publik pastinya memiliki potensi risiko.

"Itulah sebabnya kenapa kita selalu melakukan sosialisasi upaya pencegahan bagaimana agara penumpang juga turut melakukan partisipasi pada upaya pencegahannya, salah satunya dengan menggunakan fasilitas yang ada di stasiun seperti penggunaan toilet untuk mencuci tangan," tambah Eva.

Selain itu, Eva memastikan sosialisasi agar penumpang yang kurang sehat seperti batuk dan flu yang tetap menggunakan jasa kereta api, agar menggunakan masker. Sosialisasi juga ditambah dengan upaya edukasi melalui pemasangan media informasi cetak dan digital serta penyediaan handsanitizer di sejumlah titik.

"Karena ini yang paling penting membangun budaya pada penumpang bagaimana etika pada saat dalam kondisi tidak sehat namun tetap menggunakan transportasi publik, memiliki kesadaran secara pribadi menggunakan masker saat menggunakan jasa kereta api." ungkapnya.

Dia mengungkapkan, dari sejumlah sosialisasi yang dilakukan di sana  mengajak pengguna jasa (KRL dan KAI) untuk dapat memanfaatkan fasilitas stasiun yang ada seperti toilet untuk menjaga kebersihan tangan. (OL-2)

BERITA TERKAIT