11 March 2020, 16:48 WIB

Covid-19: Harga Masker di Taiwan tidak Naik, Kok Bisa?


Haufan Hasyim Salengke | Humaniora

MASKER medis menjadi barang langka di negara-negara yang terpapar virus korona baru (Covid-19), termasuk di Indonesia. Meskipun tersedia, harganya sangat mahal atau melonjak naik lebih dari 10 kali lipat.

Tetapi di Taiwan, yang juga terdampak Covid-19, sekarang semua orang dapat membeli masker medis. Harga masker di negara bertetangga dengan Tiongkok ini tidak mengalami kenaikan harga (satu lembar masker dijual NT$5 atau setara Rp2000). Bagaimana bisa Taiwan melakukannya?

Perwakilan pemerintah Taiwan di Jakarta, Taipei Economic and Trade Office (TETO), Rabu (11/3), mengatakan Taiwan telah mengambil tidakan pencegahan epidemic lebih awal atau sejak dini. Langkah mereka mendahului Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.

Setelah epidemi di Tiongkok berangsur-angsur semakin merebak, Taiwan mendirikan pusat komando epidemi pada pada 20 Januari untuk menangani upaya pencegahan epidemi nasional.

“Pemerintah Taiwan telah lama mengakui bahayanya virus corona, dan mengupayakan berbagai langkah anti-epidemi sejak awal. Ini merupakan kunci penting keberhasilan pencegahan epidemi di Taiwan,” kata TETO dalam keterangan yang diterima redaksi, Rabu (11/3).

Langkah berikutnya, kebijakan masker pemerintah Taiwan yakni membuka arus masuk dan menghemat arus keluar dan berbekal pada pengalaman memerangi SARS pada 2003. Apalagi ditambah dengan masker yang diproduksi oleh Taiwan yang jumlahnya sangat terbatas.

Lebih dari 80% kebutuhan masker Taiwan di impor dari luar negeri setiap tahun. Untuk menghemat arus keluar, pada 24 Januari pemerintah Taiwan mengumumkan untuk sementara waktu melarang masker medis di ekspor ke luar negeri.

Upaya ketiga, keputusan pemerintah Taiwan untuk membeli masker medis di seluruh negeri, dan mendistribusikan serta menjualnya secara nasional. Pusat Komando Epidemi Center secara serentak diperintahkan untuk mendistribusikan masker untuk dijual dengan harga yang sama kepada warga di seluruh negeri.

Sejak itu, harga masker medis di Taiwan ditetapkan dengan harga yang sama oleh pemerintah, dan tidak akan ada kenaikan harga. Keberhasilan dari kebijakan masker pemerintah Taiwan ini telah mulai diterapkan oleh negara lainnya, misalnya, Perancis.

Keempat, Taiwan membentuk ‘Tim Nasional Masker’. Untuk memenuhi permintaan domestik, pemerintah Taiwan memutuskan untuk berinvestasi sekitar NT$200 juta (Rp95 miliar).

Langkah selanjutnya, pemerintah Taiwan mendahului negara-negara lain dalam penerapan ‘Sistem Identitas Asli untuk Pembelian Masker’. Ini untuk memungkinkan semua orang bisa membeli masker dan mencegah praktik curang dan penimbunan.

“Dengan kata lain, setiap orang harus pergi ke apotek dan klinik kesehatan di seluruh negeri untuk membeli masker dengan menggunakan kartu asuransi kesehatan nasional, dan setiap orang dibatasi jumlah pembeliannya per minggu di hari tertentu. Warga harus berdasarkan nomor terakhir dari nomor kartu identitas,” terang TETO.

“Taiwan menjadi pioner dalam penerapan sistem identitas asli untuk masker pada 6 Februari, dan kemudian diikuti negara lainnya. Sebagai contoh, Korea Selatan mulai menerapkan sistem identitas asli yang serupa pada tanggal 9 Maret.”

Keenam, Taiwan menggunakan teknologi informasi untuk memfasilitasi distribusi oleh pemerintah dan pembelian masker oleh masyarakat.

Pemerintah Taiwan saat ini sedang menjajaki peluncuran ‘Sistem Identitas Asli 2.0 untuk Pembelian Masker’, yang menggunakan analisis data besar yang lebih akurat dalam menghitung distribusi masker di berbagai tempat. Di masa depan, beberapa masker akan dijual melalui internet untuk memfasilitasi beberapa karyawan yang tidak dapat mengambil cuti untuk pergi ke apotek beli karena pekerjaan.

Disebutkan, sebanyak 300.000 orang Indonesia dan orang asing lainnya yang tinggal secara legal di Taiwan, juga dapat menikmati hak yang sama seperti warga Taiwan untuk membeli masker dengan menggunakan kartu asuransi kesehatan nasional dan kartu izin tinggal mereka.

“Melalui keunggulan medis dan kekuatan teknologi yang dimiliki Taiwan ini, Taiwan bersedia berbagi pengalaman pencegahan epidemi yang berharga dengan seluruh negara di dunia,” tandas TETO. (OL-13)

BERITA TERKAIT