11 March 2020, 16:00 WIB

DBD Serbu 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah


Haryanto | Nusantara

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah terjadi di hampir 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah (Jateng). Sudah 17 orang meninggal dunia atau terjadi 1.227 kasus kurun waktu Januari hingga Maret 2020.

"Kendati jumlah korban mencapai 17 orang dan tersebar di 35 kabupaten/kota di Jateng, tetapi lebih rendah dibandingkan tahun lalu dan belum perlu masuk KLB," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, Tatik Muharyati di Semarang, Rabu (11/3/2020).

Menurutnya, rata-rata penyebab kematian karena keterlambatan penanganan medis. "Ini karena masyarakat kurang respons terhadap penyakit DBD. Ketika seorang demam tinggi harus segera dicek dan diperiksa," tandasnya.

Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya melakukan sosialiasi gerakan satu remaja satu juru pemantau jentik (jumantik) untuk menekan jumlah penderita DBD. Sosialisasi tersebut diberikan kepada warga bahwa pada periode Januari hingga Maret merupakan musim paling produktif bagi nyamuk Aedes aegypti.

"Kita terjun ke kabupaten/kota dengan melakukan gerakan strategi jumantik, yaitu membersihkan kotoran yang tergenang di bak kamar mandi," ujar Tatik.

Terkait penyakit DBD sendiri tidak mungkin bisa cepat hilang di Jateng, yang terpenting bisa menekan angka penderita agar tidak menyebabkan korban meninggal.

"Selama masih ada nyamuk, masih ada penderita, pasti tidak akan hilang. Cuma ditekan saja, bagaimana tata kelola kasusnya ditekan agar tidak menimbulkan kematian," lanjutnya.

Menurut Tatik, 17 kasus kematian karena DBD berasal dari 13 daerah di Jateng. Rinciannya adalah dua orang meninggal di kota Semarang dan Kabupaten Banyumas. Lalu masing-masing satu atau dua orang meninggal di Kabupaten Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Karanganyar, Rembang, Jepara, Temanggung, Batang, dan Tegal.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo, demam berdarah merupakan penyakit endemik di Indonesia. "Sebab wilayah Indonesia berada di daerah tropis," ujar Yulianto.

Berdasarkan tren tahunan, imbuhnya, saat ini merupakan puncak kejadian demam berdarah. "Mulai bulan Oktober terjadi kenaikan kasus sampai puncaknya Februari dan Maret seperti sekarang," tukasnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT