11 March 2020, 13:02 WIB

Bupati Luwu Utara Ajak Warga Kurangi Makan Nasi


Lina Herlina | Nusantara

BANYAK hal yang bisa dilakukan dalam memperingati Hari Perempuan Internasional 2020. Salah satunya yaitu Festival Pangan Lokal Non Beras, yang digelar Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, bersama Oxfam dan Wallacea, Rabu (11/3). Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani menjelaskan festival pangan lokal tersebut bukan yang pertama kalinya digelar Pemkab Luwu Utara. Namun bertepatan dengan acara Hari Perempuan Sedunia, maka festival itu diadakan secara khusus.

"Festival ini tidak melarang makan beras, tapi mengingatkan masyarakat mengurangi konsumsi beras. Kita ingin turunkan komsumsi beras di Luwu Utara yang saat ini 118 kilogram (kg) per kapita di bawah 100 kg per kapitas sesuai target kita," kata Indah.

Selain itu, bupati perempuan pertama di Sulsel ini menjelaskan, kegiatan tersebut juga sebagai ajang edukasi. Semua peserta festival, bisa jadi diseminator, paling tidak di lingkungan keluarga. Bahwa  banyak bahan pangan lokal selain beras, salah satunya sagu yang banyak ditemui di Luwu Utara.

"Kita tidak melarang makan beras, karena di Luwu Utara ini sawah eksisting itu lebih dari 28 ribu hektare. Dan potensi pengembangan sawah cukup besar. Bendung Baliase yang ada itu bisa mengaliri 21 ribu ha. Demikian pula Rongkong 28 ribu Ha, dan bisa dikembangkan hingga 31 ha," urai Indah.

"Walaupun kita surplus, bukan berarti harus makan banyak, tapi kita ikut menjamin ketersediaan untuk daerah di luar Luwu Utara. Karenanya  kita sudah mendorong dan meminta berkoordinasi dengan pemerintah pusat membangun penggilingan beras untuk menampung produksi beras kita yang melimpah. Kita mampu produksi 24 persen dari produksi beras Sulsel," sambung Indah.

baca juga: Ratusan Pasien DBD di Manggarai Barat Sembuh

Terkait kegiatan Hari Perempuan Sedunia, Indah menegaskan itu sebagai bagian dari upaya kampanye mengajak semua elemen masyarakat untuk memahami hari perempuan internasional sebagai hari untuk semua orang.

"Ini kan temanya Each for Equal, jadi setara kita. Dalam ruang publik ini kita sama. Keseluruhan ini, kita ciptakan bersama. Oleh karena itu, kita mengajak, tidak hanya perempuan, tapi juga pada laki-lakinya, bergerak bersama," lanjutnya.

Adapun pangan lokal yang dihadirkan pada festival tersebut, seperti olahan sagu, sorgum, pisang, durian, duku, langsat, cempedak, sulikan (dewandaru), dan patikala (kecombrang). (OL-3)

BERITA TERKAIT