11 March 2020, 10:07 WIB

BMKG Turunkan Tim Petakan Sebaran Dampak Gempa Sukabumi


Antara | Nusantara

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika akan menurunkan tim survei makroseismik ke zona gempa di Sukabumi Jawa Barat, untuk memetakan sebaran dampak kerusakan bangunan di wilayah tersebut.
 
"Data ini penting untuk validasi peta shakemap yang dipublikasikan BMKG," kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono.

Selain itu BMKG juga akan memasang beberapa portable digital seismograf untuk memonitor aktivitas gempa susulan. Lebih lanjut Rahmat mengatakan, tim survei BMKG juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan memberikan penjelasan seputar mitigasi gempa bumi, cara selamat saat terjadi gempa, serta menenangkan masyarakat.

Gempa Sukabumi dengan magnitudo 5,1 pada Selasa (10/3) petang termasuk gempa tipe II. Gempa diawali dengan gempa pendahuluan, selanjutnya terjadi gempa utama, kemudian diikuti gempa susulan.
 
Sebelum terjadi gempa utama (main shock) dengan magnitudo 5,1 pada pukul 17.18.04 WIB, didahului aktivitas gempa pendahuluan (foreshock) dengan magnitudo 3,1 pada pukul 17.09 WIB. Setelah terjadi gempa utama, selanjutnya diikuti gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo 2,4 pada pukul 18.06 WIB.
 
BPBD Provinsi Jawa Barat melaporkan gempa Sukabumi menimbulkan kerusakan di beberapa wilayah kecamatan, Kabupaten Sukabumi. Tercatat di Kecamatan Kalapanunggal 17 rumah rusak berat, 15 rumah rusak sedang dan 17 rumah rusak ringan). Kemudian Kecamatan Parakansalak dua rumah rusak sedang, Kecamatan Cidahu satu rumah rusak, dan Kecamatan Kabandungan beberapa rumah rusak ringan.  Dalam peristiwa gempa Sukabumi ini, menurut Rahmat Triyono ada beberapa pembelajaran yang dapat diambil dari kasus gempa Sukabumi.

baca juga: Kabel Bawah Laut Sumsel-Bangka Bisa Melistriki 200 Hotel

"Pertama, di wilayah Indonesia ternyata masih banyak sebaran sesar aktif yang belum teridentifikasi dan terpetakan strukturnya dengan baik. Identifikasi dan pemetaan sesar aktif sangat penting untuk kajian mitigasi dan perencanaan wilayah," ujarnya.
 
Kedua adalah mewujudkan bangunan tahan gempa. Hal ini penting karena banyaknya korban sebenarnya bukan disebabkan oleh gempa. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT