11 March 2020, 10:30 WIB

Antisipasi Virus Korona, Universitas AS Beralih ke Kuliah Daring


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

DALAM langkah dramatis, setidaknya selusin perguruan tinggi dan universitas di seluruh Amerika Serikat telah membatalkan kelas tatap muka dan beralih ke aktivitas belajar daring, saat pertempuran melawan virus korona baru (Covid-19) di negara itu semakin meningkat.

Pembatalan ini telah difokuskan di negara-negara yang paling terpukul oleh kasus Covid-19, termasuk California, New York, dan Washington. Virus tersebut menginfeksi lebih dari 800 orang di AS dan mengakibatkan sedikitnya 28 orang meninggal.

Pada Selasa (10/3), Universitas Harvard meminta mahasiswa untuk tidak kembali ke kampus setelah liburan musim semi dan mengatakan akan pindah ke pengajaran virtual pada 23 Maret.

"Keputusan untuk pindah ke instruksi virtual tidak dibuat enteng," kata universitas dalam sebuah pernyataan. "Tujuan dari perubahan ini adalah untuk meminimalkan kegiatan berkumpul dalam kelompok besar dan menghabiskan waktu lama dalam jarak yang dekat satu sama lain di ruang-ruang seperti kelas, ruang makan, dan bangunan tempat tinggal."

Baca juga: Trump Mengaku Sehat dan Tidak Memiliki Gejala Virus Korona

Universitas Columbia, Universitas Princeton, Universitas Stanford, Universitas Negeri Ohio, Universitas South California, dan Universitas Washington semuanya telah mengumumkan tindakan serupa yang disebut tindakan social-distancing.

Universitas Princeton di New Jersey mengatakan semua kuliah, seminar, dan kursus akan beralih ke daring setelah reses musim semi, minggu depan, dan akan berlangsung hingga setidaknya 5 April.

Stanford University di California, yang saat ini memiliki lusinan kasus Covid-19 yang dikonfirmasi, membatalkan semua kelas untuk dua minggu terakhir semester musim dinginnya. Ohio State University menghentikan sementara kelas-kelas tatap muka hingga 30 Maret.

Lusinan sekolah dan rumah ibadah di seluruh AS juga telah ditutup dan konferensi, acara olahraga, dan konser juga telah dibatalkan dalam upaya memperlambat penyebaran virus.

Bryan Alexander, seorang mahasiswa senior di Universitas Georgetown, mengatakan sebagian besar universitas memiliki infrastruktur teknologi yang memadai untuk melakukan kelas daring. Namun, pihak yang tidak akrab atau tidak memiliki teklonologi mungkin akan menghadapi kesulitan.

"Kesulitannya adalah fakultas yang tidak memiliki pengalaman dalam mengajar daring, mereka harus bergeser dengan cepat, serta menerjemahkan materi kelas secara daring," kata Alexander kepada Al Jazeera.

"Tidak semua siswa akan memiliki akses ke teknologi yang memadai," katanya. "Jika, di rumah, mereka tidak memiliki broadband yang baik, perangkat keras yang tepat, ini bisa menjadi masalah yang harus kita perbaiki."

Mahasiswa Harvard Tom Osborn, 24, dari Kenya mengatakan dia ‘terkejut’ dengan pengumuman itu, yang memberi mahasiswa hanya lima hari untuk menyelesaikan tugas perkuliahan, mengepak barang-barang mereka, mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman, dan membuat rencana perjalanan.

"Situasi kacau sekarang, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi," kata Osborn kepada Al Jazeera. (OL-1)

BERITA TERKAIT