11 March 2020, 08:50 WIB

Tarif Naik, Aplikator Ojol Benahi Layanan


Hilda Zulaika | Ekonomi

KEMENTERIAN Perhubungan sudah mengumumkan kenaikan tarif ojek da ring (ojol) di Jabodetabek per Senin (16/3). Kenaikan tarif batas bawah sebesar Rp250 per km dari Rp2.000 menjadi Rp2.250. Lalu tarif batas atas naik Rp150 per km dari Rp2.500 menjadi Rp2.650.

Dalam menanggapi hal ini, manajemen Gojek dan Grab mengaku akan meningkatkan pelayanan mereka terhadap penumpang.

Sebagaimana diungkapkan Chief Public Policy and Government Relations Gojek, Shinto Nugroho. Menurut dia, Gojek akan menaati peraturan Kemenhub tersebut.

Salah satunya dengan meningkatkan keamanan penumpang melalui fitur-fitur di aplikasi Gojek seperti bagikan perjalanan dan tombol darurat.

"Selain itu, kami memberi perlindungan terhadap konsumen dengan asuransi, bekerja sama dengan Jasa Raharja. Setiap trip dengan Gojek, akan dikover Jasa Raharja," kata Shinto, kemarin.

Perusahaan transportasi online, Grab, pun akan menerapkan peraturan Kemenhub tersebut. Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Ann reiano, berharap kenaikan tarif ojol di Jabodetabek bisa meningkatkan kesejahteraan pengemudi dan kelangsungan industri transportasi online.

"Kami akan beradaptasi dalam skema baru. Ke depan, Grab berkomitmen meningkatkan keamanan konsumen dengan menghadirkan fitur telepon gratis (free call) dan identifikasi wajah untuk penumpang. Asuransi seluruhnya dikover," ujar Tri Sukma.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengumumkan kenaikan tarif ojol untuk zona II, yakni Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

"Adapun tarif untuk zona I dan III tidak berubah. Selain menaikkan tarif batas atas dan tarif batas bawah, kami juga menaikkan biaya jasa minimal ojol. Kami memutuskan naik dari Rp8.000-Rp10.000 menjadi Rp9.000-Rp10.500," papar Budi Setiyadi.

Budi memastikan kenaikan tarif ojol zona II ini mempertimbangkan usulan berbagai pihak seperti pengemudi, aplikator, dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Difabelitas

Ketua Harian YLKI Tulus Abadi menilai kenaikan tarif ojol ini masih dalam koridor keterjangkauan konsumen. Dia pun meminta aplikator dan pengemudi meningkatkan pelayanan kepada konsumen.

"Dulu awal-awal muncul ojol driver dibekali masker dan penutup kepala. Kini, tidak lagi. Kami minta ini dijalankan lagi. Jas hujan pun harus disiapkan," saran Tulus.

Peningkatan layanan juga berkaitan dengan kualitas kendaraan dan pengemudi. Beberapa kali YLKI menemukan pengemudi ojol yang menyandang difabelitas. Ini amat berbahaya apabila harus mengemudi dan membawa penumpang. Menurutnya, pekerja dengan difabelitas sebaiknya ditempatkan di bagian lain, bukan sebagai pengemudi.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti, menuturkan kenaikan tarif ojek daring ini akan memengaruhi tingkat inflasi.

"Ada pengaruhnya, tetapi besar kecilnya harus dihitung dulu. Sepertinya tidak besar. Apalagi kenaikannya di perte-ngahan bulan," tutur Yunita. (Mir/X-3)

BERITA TERKAIT