11 March 2020, 05:30 WIB

Kasih Sayang Tumbuhkan Empati pada Anak


Ihfa Firdausya | Humaniora

WAJAH NF,15, tampak datar tanpa ekspresi, apalagi penyesalan di hadapan petugas polisi yang menanyainya. Padahal, remaja perempuan itu baru saja melaporkan kalau dirinya baru menghabisi nyawa seorang bocah perempuan, APA, berusia 5 tahun, anak tetangganya.

Polisi nyaris menilai laporan NF hanya gurauan belaka. Setelah memeriksa tempat kejadian perkara di Sawah Besar, Jakarta Pusat, informasi yang diberikan NF nyatanya terbukti. "Dia begitu tenang," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, saat mengumumkan kasus itu, pekan lalu.

Kepada polisi, NF juga mengakui memiliki kebiasaan tak wajar, yakni membunuh hewan-hewan tanpa alasan sejak kecil.

Psikiater dari Siloam Hospital Bogor, dr Jiemi Ardian, mengungkapkan menyiksa hewan/objek lain bisa jadi bentuk tanda seseorang tidak berhasil merasakan empati. Ini juga jadi salah satu ciri kepribadian psikopat.

"Jika perilaku ini berulang dari masa kanak dan berlangsung berkepanjangan, ada baiknya kita konsultasikan kepada psikolog dan psikiater anak," ujarnya kepada Media Indonesia, kemarin.

Psikopat secara klasik merupakan kepribadian yang dikarakteristikkan berperilaku antisosial (sering melanggar norma/hukum), kesulitan mengalami perasaan bersalah/menyesal, kurang mampu meng-inhibisi perilaku, dan kecenderungan egoistik.

Pada beberapa kasus, katanya, psikopat sering dianggap sama dengan sosiopati.

Seorang psikopat akan terlihat superficial charm (terlihat sangat manis, tapi jika ada orang menderita, tidak peduli), ketiadaan rasa bersalah/menyesal, tidak sensitif terhadap hukuman, tidak mampu merasakan empati, dan melakukan kekerasan pada hewan.

Menurut dr Jiemi, psikopat didahului oleh kerentanan genetik dan tanda utamanya ialah ketiadaan rasa bersalah.

"Sekitar 1%-2% populasi mengalami hal ini, dan sebagian besarnya bukan pelaku tindak kriminal," jelasnya.

Saat ini terminologi terbaru tidak menggunakan istilah psikopat lagi, tetapi antisocial personality disorder dan bisa dideteksi sejak kecil.

"Psikopat dimulai dari gangguan genetik, susah untuk mengajarkan empati. Yang bisa dilakukan adalah mengenali tanda awal, lalu bawa ke psikolog dan/atau psikiater anak," pungkasnya.

Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan diagnosis psikopat/sosiopat baru bisa ditegakkan jika yang bersangkutan sudah 18 tahun. Di bawah usia itu disebut bahwa yang bersangkutan memiliki conduct behavior disorder, yang ciri-cirinya sama dengan sosiopat.

Ratih menuturkan, anak yang cenderung bertingkah psikopat bisa dideteksi terutama ketika ia masuk ke usia sekolah, SD, yaitu 6 tahun. Kasih sayang dan doa orangtua dianggap bisa membendungnya.

"Orangtua tidak bisa berbuat banyak, untuk memperbaiki, jika ternyata anaknya sudah dari 'sononya' rusak," kata Ratih saat dihubungi Media Indonesia.

Asah, asih, asuh

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, Spog, mengaku prihatin atas kasus ini. Ia menyampaikan, pertumbuhan dan perkembangan anak haruslah menjadi perhatian penting para orangtua.

"Ada tiga kebutuhan dasar, yaitu asuh, asih, dan asah. Ketika mengasuh anak dengan segenap asupan, asupan nutrisi kurang dan dalam rahim juga demikian, apalagi kurang mendapatkan kasih sayang sehingga bisa menimbulkan ganguan mental emosional," kata Hasto. (Fer/H-2)

BERITA TERKAIT