11 March 2020, 05:15 WIB

Kehadiran Teknologi Jadi Daya Tarik Regenerasi


(Des/E-2) | Fokus

CHIEF Executive Officer (CEO) PT Merapi Tani Instrumen (Mertani), Yustafat Fawzi, menilai regenerasi petani saat ini belum terlaksana dengan optimal. Hal itu disebabkan sudut pandang generasi-generasi milenial yang berbeda dalam mengartikan sektor pertanian.

"Padahal sektor pertanian menjadi sektor yang penting bagi semua bangsa di dunia. Negara yang maju itu adalah negara yang memiliki ketahanan pangan yang baik dan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat," ucapnya.

Lewat Mertani, perusahaan yang bergerak dalam penyediaan solusi internet of things (IoT) dan analisis untuk perusahaan perkebunan atau pertanian, pria kelahiran tahun 1990 itu ingin menggugah anak muda untuk mau bertani.

Dalam pandangan Yustafat, ada dua hal yang menyebabkan generasi milenial tak acuh terhadap sektor pertanian. Hal tersebut bisa dilihat dari segi off farm (proses komersialisasi hasil-hasil budi daya pertanian) dan on farm (seluruh proses yang berhubungan langsung dengan budi daya pertanian). "Mungkin kita mulai dari off farm, generasi muda melihatnya sektor itu hanya menghasilkan sedikit uang. Mungkin untuk saat ini hal yang harus diperbaiki adalah pola pikirnya untuk terjun ke dunia pertanian," ungkapnya, Senin (9/3).

Lebih lanjut, menurut Yustafat, sektor off farm merupakan hal yang harus diperbaiki pemerintah. Dalam hal ini yang dimaksudkan ialah jalur distribusi, pembagian hasil yang adil, dan kemudahan akses modal menjadi hal yang harus diperbaiki sehingga bisa lebih menarik minat para generasi muda.

Sementara itu, dari segi on farm, ia menilai perlu adanya mekanisasi atau pengembangan teknologi. "Itu harus mekanisasi karena paling efisien. Tenaga kerja itu mahal sekarang. Mekanisasi itu bisa mempermudah sektor pertanian karena enggak butuh banyak tenaga dan enggak perlu bersusah payah lagi. Menurut saya, ini bisa jadi daya tarik tersendiri karena sesuai dengan gaya hidup anak muda zaman sekarang," pungkas Yustafat.

William Setiawan, Co-Founder Tanihub, sebuah aplikasi e-commerce untuk petani, pun punya pemikiran yang sama. Karena itu, ia menggagas sebuah startup karena ia yakin kehadiran beragam startup di sektor pertanian akan membuat generasi muda berhasrat jadi petani.

Di Tanihub, misalnya, aplikasi itu berhasil memangkas rantai pasokan yang kerap menjadi dampak menurunnya harga produk petani. Sebagai e-commerce agriculture, Tanihub mencoba jadi jembatan distribusi dari petani kepada users, pebisnis, atau pengguna Tanihub.

"Mekanisme bagi hasil yang diterapkan Tanihub punya skema membeli langsung hasil produk dari para petani untuk kemudian dipasarkan lagi oleh Tanihub. Hal ini pun menjadi salah satu hal yang menyebabkan para petani percaya kepada kami," ucap pria kelahiran tahun 1991 tersebut. (Des/E-2)

BERITA TERKAIT