11 March 2020, 01:05 WIB

Cara Pemerintah Dorong Pemajuan Musik Nasional


Abdillah Marzuqi | Weekend

Pemerintah menyatakan komitmen untuk memfasilitasi pengembangan ekosistem musik Indonesia. Hal itu diungkap Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ahmad Mahendra dalam diskusi bertajuk Menyusun Tonggak Sejarah Musik Indonesia di M Bloc Space Jakarta (10/3).

“Membangun ekosistem musik ini penting, kami siap memfasilitasi,” ujar Mahendra. Menurutnya modal utama pemerintah adalah mendengarkan dan memfasilitasi para pegiat musik.

Presiden Joko Widodo, menurut Mahendra, telah berjanji bakal meneruskan pemajuan musik Indonesia melalui beberapa cara, seperti perlindungan hak cipta, sistem pendataan terpadu, peningkatan apresiasi dan literasi musik dalam pendidikan, peningkatan kesejahteraan musisi, dan penyiapan infrastruktur pendukung.

Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru Kemendikbud akan berbagi tugas dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. “Harus sama-sama, agar hulu dan hilir satu konsep,” tambahnya.

Diskusi Menyusun Tonggak Sejarah Musik Indonesia adalah bagian dari rangkaian acara perayaan Hari Musik Nasional yang diselenggarakan Kami Musik Indonesia (KAMI), inisiatif bersama Koalisi Seni dan Yayasan Ruma Beta. Diskusi tersebut menghadirkan tiga pembicara yakni Ahmad Mahendra, etnomusikolog Nyak Ina Raseuki, dan jurnalis foto Oscar Motuloh.

Etnomusikolog Nyak Ina Raseuki lebih menyoroti kekuatan musik Indonesia yang terletak pada keberagaman budaya. “Keanekaragaman adalah ciri musik Indonesia, yang mengikuti struktur dan perubahan masyarakatnya,” ucap perempuan yang akrab disapa Ubiet itu.

Ia menjelaskan, dengan berbeda-bedanya perkembangan masyarakat di bagian-bagian negeri ini, ada begitu banyak jenis musik bisa hidup. Ragam musik dari berbagai wilayah dunia memperkaya musik Indonesia sejak dulu. Musik dari Persia, India, Cina, dan Eropa bercampur baur dengan musik etnik.

Ia juga mencatat kurangnya pengetahuan terhadap ragam musik di daerah lain. Oleh karenanya, ia menegaskan pentingnya agar musisi saling bertukar pengetahuan tentang musik.

“Orang Jawa tahunya hanya musik yang lazim di Jawa, anak Kalimantan tahunya musik di sana. Mungkin kita tidak tahu juga apa yang terjadi dalam musik di bagian timur Indonesia,” lanjutnya.

Di lain hal, Oscar Motuloh membahas kaitan musik dengan politik, terutama masa menjelang dan awal-awal kemerdekaan. Sayangnya, kata jurnalis foto itu, kini banyak artefak sejarah yang rusak akibat kurang baiknya pengelolaan oleh pemerintah. Misalnya, biola WR Supratman, pencipta Indonesia Raya, yang dihibahkan keluarga ke Museum Sumpah Pemuda.
 
“Juga piringan hitam Indonesia Raya yang diproduksi pertama kali setelah kemerdekaan, tahun 1959 dan diterbitkan Lokananta. Kalau melihat kondisi master rekamannya di Lokananta, sebaiknya dikonservasi secara lebih baik,” tuturnya. (M-2)

BERITA TERKAIT