10 March 2020, 21:22 WIB

Kebijakan Merdeka Belajar Perlu Diawali Cetak Biru Pendidikan


Antara | Humaniora

KEBIJAKAN Merdeka Belajar yang digulirkan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim perlu diawali dengan adanya cetak biru pendidikan.

Hal itu menurut pengamat pendidikan dari Center for Education Reguklations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji, untuk menjamin integrasi peta jalan pendidikan yang telah disusun sebelumnya.

"Saya patut apresiasi idenya yang berbeda dengan yang lain, tapi yang perlu diingatkan ini bagian dari peta jalan yang mana, karena jilid satu hingga keempat sepotong-sepotong. Tidak terintegrasi dengan baik," ujar Indra di Jakarta, Selasa (10/3), dikutip dari Antara

"Kita tidak tahu utuhnya nanti bagaimana kebijakan Merdeka Belajar ini. Kalau sepotong-sepotong seperti ini maka kembali seperti dulu," imbuhnya.

Indra menilai banyak yang masih bingung dengan konsep Merdeka Belajar dari episode I hingga IV dan cara mengimplementasikannya, terutama guru-guru yang berada di daerah.

Baca juga : Sambut Merdeka Belajar, UNJ Siapkan Tim Kajian

Merdeka Belajar episode I digulirkan pada Desember 2019 yakni mengenai kemudahan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pelajaran, otonomi sekolah Ujian Sekolah Berstandar Nasional, perubahan format UN, dan perubahan penerimaan siswa baru jalur prestasi menjadi 30 persen.

Kemudian Merdeka Belajar episode II mengenai perubahan di perguruan tinggi yakni magang hingga tiga semester, kemudahan PTN menjadi PTNBH, reakreditasi otomatis, dan kemudahan membuka program studi baru.

Sedangkan Merdeka Belajar episode III mengenai perubahan format Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang langsung disalurkan ke rekening sekolah. Sementara, Merdeka Belajar episode IV mengenai program Organisasi Penggerak yang bertujuan meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan guru.

"Lebih baik seperti Kazan yang mentenderkan program pelatihan gurunya kepada negara lain yang memang bagus dan terpilih Singapura dan Finlandia. Pemerintah hanya sebagai fasilitator saja," kata dia.

Dengan demikian, kata dia, dana yang dialokasikan tersebut tidak sia-sia. Tidak hanya berupa kegiatan yang tidak memiliki dampak, melainkan memiliki dampak pada peningkatan kompetensi guru dan kepala sekolah. (Ant/OL-7)

BERITA TERKAIT