10 March 2020, 20:40 WIB

MRT-ITDP Siap Tata Jalan Lingkungan di Stasiun MRT


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

PEMERINTAH provinsi DKI Jakarta melalui PT MRT Jakarta berkolaborasi dengan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) melanjutkan program penataan kawasan jalan-jalan lingkungan di sekitar stasiun MRT dengan tujuan meningkatkan aksesibilitas warga sekitar.

Sebelumnya, PT MRT Jakarta telah menata jalan lingkungan di dekat Stasiun Cipete. Pada Minggu (8/3) lalu penataan berlanjut ke jalan lingkungan di dekat Stasiun Fatmawati serta Stasiun Haji Nawi yakni Jalan Darul Maarif dan Gang Langgar. Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara juga turut dilibatkan untuk berkolaborasi dalam pelaksanaan program tersebut.

Baca juga: Mulai Dikerjakan Maret Tahun Depan, MRT Fase 2 Beroperasi 2024

Kedua jalan itu mempunyai volume pejalan kaki mencapai 150 orang per jamnya dan didominasi oleh pelajar Yayasan Darul Maarif yang berjarak hanya 80 meter dari Jalan RS Fatmawati. Sebanyak 25,8% pejalan kaki melalui Jalan Darul Maarif menuju Stasiun MRT.

Selain itu, jalan Darul Maarif terkoneksi langsung dengan Jalan Timbul yang juga tepat berada pintu keluar Stasiun MRT Haji Nawi sebelah Selatan. Implementasi intervensi ini kemudian membentuk jaringan jalur pejalan kaki yang terkoneksi sepanjang 1km.

Zona Selamat Sekolah menjadi prioritas intervensi dan juga pembagian ruang jalan pejalan kaki di jalan Darul Maarif karena tingginya volume pejalan kaki di segmen jalan itu. Dinding 'mati' yang berada di pintu jalan Darul Maarif mempunyai potensi sangat besar untuk mengaktifkan ruang jalan demi kenyamanan pejalan kaki.

Di sinilah para dosen dan mahasiswa/i Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara berkreasi. Dengan mural bertemakan transportasi publik, pejalan kaki dan pesepeda, ruang jalan Darul Maarif menjadi menarik dan diharapkan dapat mengajak lebih banyak orang untuk berjalan kaki.

"FSRD Untar memiliki tagline 'design for change' yang memiliki tujuan bahwa desain sebagai applied art (seni terapan) perlu dikembalikan dan memiliki dampak kepada masyarakat. Oleh karena itu melalui kegiatan mural yang dilakukan di #JalanJakarta, diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” ungkap Dekan dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara Kurnia Setiawan dalam keterangan resmi PT MRT Jakarta, Selasa (10/3).

Kolaborasi #JalanJakarta menjadi bukti bahwa peningkatan aksesibilitas pun dapat terjadi dengan menerapkan perencanaan partisipatif-kolaboratif. Warga setempat, SKPD wilayah, hingga SKPD tingkat provinsi memiliki andil dan porsi masing-masing dalam meningkatkan aksesibilitas di lingkungan mereka. Hal ini tentunya, sesuai dengan visi misi Provinsi DKI Jakarta, yang mendorong terjadinya kolaborasi antara semua pihak dalam pembangunan perkotaan untuk mewujudkan kota lestari yang humanis.

Muhamad Kamaluddin, Corporate Secretary MRT Jakarta menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan acara ini.

“Kegiatan pagi ini bisa terlaksana sesuai dengan program kami mendukung Pemerintah Provinsi DKI menjadi Jakarta 4.0 dengan berkolaborasi dan MRT Jakarta menjadi platformkolaborasi tersebut. Kami berharap kolaborasi ini tetap berlanjut dan lebih banyak kolaborasi ke depannya. Lewat program ini, selain dapat memperbaiki aksesibilitas, juga akan meningkatkan jumlah pengguna MRT Jakarta,” paparnya.

South East Asia Director ITDP, Faela Sufa juga berharap #JalanJakarta menjadi program yang dapat diimplementasikan di jalan-jalan lingkungan seluruh Jakarta.

“Peningkatan aksesibilitas di jalan-jalan lingkungan akan mendorong orang untuk mau berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik, karena ada kepastian lokasi dan jarak. Pendekatan partisipatif kolaboratif juga terbukti dapat dilakukan, dan mempercepat proses perencanaan dan implementasi karena melibatkan warga sebagai pengguna jalan utama,” tutup Faela.

Program penataan jalan lingkungan ini merupakan langkah perbaikan dari Pemprov DKI sebagai tindak lanjut dari audit aksesibilitas MRT pada 2019 bahwa kualitas jalur pejalan kaki di seluruh stasiun MRT Jakarta masih memiliki banyak potensi untuk ditingkatkan. Namun, secara umum, kualitas jalur pejalan kaki di area sekitar stasiun bawah tanah MRT Jakarta lebih baik dibandingkan dengan area sekitar stasiun layang.

"Aspek penyeberangan dan muka bangunan aktif di seluruh stasiun MRT Jakarta masih perlu peningkatan. Selain itu, Stasiun layang MRT Jakarta memiliki lebih banyak muka bangunan yang permeable dan kawasan yang terlindungi oleh peneduh," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo. (Put/A-1)

 

BERITA TERKAIT