10 March 2020, 20:25 WIB

Pelaku Seni Minta Transparansi Revitalisasi Taman Ismail Marzuki


Fetry Wuryasti | Megapolitan

SAAT ini pembongkaran gedung di area Taman Ismail Marzuki (TIM) sedang dihentikan untuk sementara. Penghentian ini telah menciptakan ruang dialog antara pihak Pemprov DKI, Jakpro, para seniman, dan masyarakat.

Art director Rama Soeprapto mewakili forum pegiat seni mengatakan, bila tidak ada perkembangan dari revitalisasi ruang-ruang seni dan pertunjukkan Taman Ismail Marzuki, maka potensi hilangnya penerimaan retribusi daerah per hari mencapai Rp 200 juta.

"Sebab, banyak sekali kegiatan pertunjukkan yang akhirnya batal dan tertunda hingga terluntang lantung harus mencari panggung lagi. Tentu panggung-panggung swasta itu sangat mahal. Mau genre pertunjukan apapun, di balik semua itu ada hal yang lebih besar, seperti bayar gedung, lighting, penari dan lainnya," kata Rama dalam FGD yang diinisiasi Dewan Kesenian Jakarta, di Jakarta, Selasa (10/3).

Tidak jelasnya perkembangan serta transparansi pengelolaan dan sistem pada Taman Ismail Marzuki, membuat semua seniman ada rasa frustasi, akan mau dibawa kemana Taman Ismail Marzuki ini.

Digadang-gadang, gedung pertunjukan TIM yang direvitalisasi akan mampu menampung 2.000 penonton. Namun bukan itu yang dibutuhkan oleh pelaku seni.

Gedung teater Jakarta TIM yang menampung sebanyak 1.600 orang pun, dirasa sangat sia-sia. Seni teater lebih membutuhkan ruang yang dekat antara penonton dan pertunjukan. Selain itu, tidak mudah untuk menjual pertunjukkan hiburan teater yang memang lebih spesifik peminatnya, dengan harga tiket ratusan ribu.

Ada fasilitas-fasilitas yang mendesak terkait seni pertunjukkan, yang mereka yakin tidak akan direalisasikan pada konsep baru Taman Ismail Marzuki.

Justru yang dihadirkan pada gedung teater besar TIM, misalnya, berupa sesuatu yang mubazir, seperti hidrolik besar di tengah panggung yang justru bagi pelaku teater, tidak mendesak, hingga penggantian sound sistem terbaru, dengan harga sangat mahal yang tidak mendesak.

Sedangkan kebutuhan penyesuaian temperatur bagi penari balet, penyediaan sistem flybar yang mumpuni, hingga kebutuhan pencahayaan di ruang tunggu untuk pentas tidak terpenuhi.

Berdasarkan data pemanfaatan gedung-gedung di area TIM, komunitas tari merupakan komunitas seni dengan intensitas penggunaan gedung tertinggi dibanding komunitas seni lainnya.

Komunitas

Saat ini ada lebih dari 50 komunitas tari yang rutin berlatih di area TIM. Sepanjang tahun 2019 tercatat setidaknya empat perhelatan tari yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta di TIM yaitu, Jakarta Dance Meet Up (reguler), Jakarta Dance Meet Up (selection), Unboxing Tari, dan Telisik Tari 'Ballet in Batavia'.

Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UPPKJ) TIM juga menggelar Jakarta Dance Extravaganza pada tahun yang sama. Selain DKJ dan UPPKJ TIM, masih banyak lembaga dan komunitas tari lain yang juga rutin menggelar pertunjukan di TIM.

Saat ini kawasan TIM memang masih menjadi salah satau sarana utama bagi seniman untuk berlatih dan menggelar pertunjukan dengan biaya sewa gedung yang tergolong terjangkau karena merupakan subsidi.

Namun demikian, mereka masih merasakan cukup banyak kejanggalan dalam rancang bangun gedung-gedung di TIM yang kini dan akan datang. Banyak dari kawasan ini akhirnya tidak maksimal dalam mendukung aktivitas seniman untuk berlatih dan mementaskan karya.

“Gedung pertunjukan adalah tempat bertemunya penonton, seniman dan pemerintah. Harusnya terjadi dialog yang intens dan detail, bukan hanya sekadar wacana. Harus lebih mendetail menyoal pelaksanaan dan pengelolaan. Sehingga penonton senang, seniman puas, dan pemerintah punya kebanggaan," kata Rusdy Rukmarata, Plt. Ketua Bidang Program Dewan Kesenian Jakarta. (OL-12)

BERITA TERKAIT