11 March 2020, 00:45 WIB

AS Kurangi Pasukan di Afghanistan


MI | Internasional

AMERIKA Serikat (AS) kemarin mulai menarik pasukannya dari Afghanistan sebagai bagian dari kesepakatan dengan Taliban yang bertujuan membawa perdamaian ke negara itu.

AS sepakat untuk mengurangi pasukannya dari sekitar 12.000 menjadi 8.600 orang dalam waktu 135 hari sejak penandata­nganan perjanjian AS-Taliban di Doha, Qatar beberapa waktu lalu.

Menarik kembali pasukan adalah syarat dari perjanjian damai bersejarah yang ditandatangani oleh AS dan Taliban pada 29 Februari 2020.
Kolonel Sonny Leggett, seorang juru bicara pasukan AS di Afghanistan, mengumumkan fase pertama penarikan pasukan Amerika.

Leggett dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa AS mempertahankan semua sarana dan wewenang militer untuk mencapai tujuannya di Afghanistan meskipun pasukan ditarik.

Ketika penarikan pasukan AS dimulai pada Senin, ketidakstabilan politik yang baru mengancam prospek pembicaraan antara semua pihak di negara tersebut.

Kesepakatan damai itu sendiri terlihat rapuh pekan lalu setelah AS melancarkan sera­ngan udara sebagai balasan terhadap para pejuang Taliban yang menyerang pasukan Afghanistan di provinsi Helmand.


Tahanan Taliban bebas

Pemerintah Afghanistan tidak mengambil bagian dalam kesepakatan itu tetapi diperkirakan akan mengadakan pembicaraan dengan Taliban.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani awalnya mengatakan tidak akan mematuhi perjanjian untuk membebaskan tahanan Taliban sebagai prasyarat untuk pembica­raan langsung dengan kelompok militan.

Tetapi, BBC kemarin melaporkan bahwa Ghani, yang dilantik sebagai presiden Afghanistan untuk masa jabatan keduanya pada awal pekan ini, akan segera mengeluarkan keputusan untuk membebaskan sekitar 1.000 tahanan Taliban.

Sementara itu, dua upacara pelantikan terpisah berlangsung untuk jabatan presiden Afghanistan antara Ashraf Ghani dan saingannya Abdullah Abdullah. Komisi pemilihan Afghanistan mengatakan petahana Ghani menang tipis dalam pemungutan suara September tahun lalu, tetapi Abdullah tidak mengakui hasil itu dan menuduh Ghani berbuat curang. (AFP/Nur/X-11)

BERITA TERKAIT