10 March 2020, 16:45 WIB

RTH Pluit Mulai Dibersihkan


Sri Utami | Megapolitan

Mengenakan topi merah dengan baju kaos bergaris lengan panjang Asep dan satu rekannya mengangkat satu per satu tumpukan kayu lapuk yang dibiarkan begitu saja sejak lama. Sambil sesekali Asep menghapus keringat yang membasahi dahinya, matanya memperhatikan eskavator yang belum berhenti mengeruk tanah sejak pagi tadi.

Kurang lebih satu bulan Asep dan beberapa rekannya menerima pekerjaan membersihkan semak belukar di lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Pluit Karang Jakarta Utara seluas 2,3 hektare (ha). Tugas atau yang disebutnya sebagai pekerjaan ini diberikan oleh PT Jakarta Utilitas Propertindo.

"Sudah sekitar satu bulan sih kami kerjain ini. Kalau untuk sampai kapannya saya tidak tahu karena ini luas sekali," ujarnya.

Baca juga: Rencana Alih Fungsi RTH di Muara Karang Tuai Protes

Sebagian semak belukar di lahan tersebut sudah bersih. Tembok yang dibuat dari bebatuan besar berdiri kokoh setinggi sekitar setengah meter membentuk persegi seperti panggung pentas. Tidak jauh dari tembok, terlihat ada satu unit eskavator mengeruk tanah di pinggirnya. Dua orang pekerja di dekatnya merapikan tanah di sekitar saluran air yang dindingnya terbuat dari beton. Di beberapa sisi terlihat pasir yang menggunung, sedangkan di sisi lain ada tumpukan batako yang dililit tanaman perdu. Ada menara sutet yang berdiri kokoh di tengahnya.

"Iya itu tinggal merapikan selokannya saja. Nanti baru ditutup," ujar rekan Asep.

Menurut Asep, lahan yang dibersihkannya itu sudah lama menjadi lahan kosong yang tidak diurus. Jadi, tidak heran jika banyak yang mengira tanah ini tanah tidak bertuan dan berguna.

"Sudah lama kaya begini. Seperti hutan. Jadi kalau malam meski di sini ramai, tapi di sini kaya hutan ya. Orang-orang kadang takut juga. Takut ada begal," cetusnya.

Menurut juru parkir di sekitar areal Aan, dirinya tahu kalau tempat tersebut hanya disewakan. "Kalau dijual saya tidak tahu, tapi yang saya tahu tanah ini disewakan. Kalau orang tanya ke sana saja. Ada petugas marketingnya," ucapnya sambil menunjuk sebuah tempat tidak jauh dari pintu masuk.

Aan mengaku pernah bertemu dengan orang yang bertanya terkait tanah yang dijual per meter Rp60 juta tersebut. Aan mengaku bingung karena saat itu dia tidak percaya tanah di bantaran kali Angke tersebut dijual.

"Waktu itu saya tidak tahu tanah yang dimaksudnya itu yang ini. Ya saya pikir tanah di mana gitu ya. Soalnya kan ini tanah pinggir kali dan rencananya mau tempat orang jualan," cetusnya.

Sebelumnya Corporate Secretary and Legal Departement Head PT Jakarta Utilitas Propertindo Andika Silva mengatakan saat ini lahan 2,3 ha tersebut masih dalam pembersihan. "Masih tahap pembersihan dan perapian dulu karena lahan itu lama tidak terawat lebih dari tiga tahun sehingga tampak seperti hutan belantara," jelasnya.

Untuk membersihkan lahan tersebut dibutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga rencana pembangunannya tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

"Yang pasti pembersihan dulu karena bisa jadi itu jadi sarang ular. Untuk target pembangunan belum tahu," ungkap Andika.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta rencananya akan mengubah RTH menjadi jogging track, taman, hingga lokasi parkir. Jadi, nantinya RTH bisa menjadi alternatif bagi warga yang ingin menikmati beragam makanan atau melakukan olahraga ringan. (OL-14)

BERITA TERKAIT