10 March 2020, 16:00 WIB

Revitalisasi TIM Perlu Dengar Saran Seniman


Atikah Ishmah Winahyu | Megapolitan

Penataan ulang atau revitalisasi kawasan pusat kesenian dan kebudayaan Taman Ismail Marzuki (TIM) saat ini tengah dihentikan sementara. Penghentian ini dimanfaatkan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membuka ruang dialog antara pihak Pemerintah Provinsi, Jakpro, masyarakat, dan seniman, guna menyalurkan aspirasi mereka dalam pembangunan TIM yang baru.

Saat ini kawasan TIM menjadi salah satu sarana utama bagi para seniman untuk berlatih dan menggelar pertunjukan dengan biaya yang tergolong terjangkau. Namun, pada proyek revitalisasi yang tengah dijalankan, dinilai banyak terjadi kejanggalan dalam rancang bangun gedung di TIM, sehingga dikhawatirkan ke depannya kawasan ini tidak maksimal dalam mendukung aktivitas para seniman dalam mendukung aktivitas seniman dalam berlatih serta mementaskan karyanya.

Menurut penari senior Nungki Kusumastuti, dibutuhkan dialog dan masukan dari para seniman pengguna TIM agar nantinya fasilitas baru yang dibangun di kawasan ini menjadi lebih tepat guna dan mampu memenuhi kebutuhan para seniman.

"Pertunjukan di Teater Jakarta tetap bagus, tapi (terasa) ada yang hilang karena berjarak terlalu jauh dan bukan itu tujuannya. Ada yang nggak pas. Kalau kita pentaskan itu di ruang kecil, tapi berkali-kali menjadi suatu pertunjukan yang mempunyai bobot meningkatkan estetika artistik itu dengan tempat itu ruang yang kita perjuangkan, menurut saya harus muncul di sini," ujar Nungki dalam forum group discussion di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (10/3).

Baca juga: Hotel di TIM Batal, DPRD Minta Jakpro Rombak Skema Bisnis di TIM

Plt Ketua Bidang Program Dewan Kesenian Jakarta Rusdy Rukmarata mengungkapkan pemerintah tidak memahami masalah yang dialami/dirasakan oleh para seniman selama menggunakan fasilitas di TIM.

"Ini ada suatu pengalaman DKJ diundang Gunernur, ada Jakpro ada Disbud yang baru. Pada momen itu saya menceritakan persoalan teater, persoalan GBB dan lainnya. Dan mereka semua tidak tahu bahwa itu problem. Jadi, mereka berpikir bahwa ini memang tidak masalah. Nah, ini yang bahaya menurut saya karena kalau mereka tidak tahu kalau itu problem, gedung yang baru ini jangan-jangan tidak diperhatikan seperti itu juga," tuturnya.

Dari diskusi dengan para seniman ini diharapkan terbentuk sebuah masukan yang dapat mengurai persoalan yang selama ini mereka alami sebagai bahan pertimbangan dalam pembangunan kawasan TIM yang digelar oleh Pemerintah DKI Jakarta dan Jakpro. (OL-14)

BERITA TERKAIT