10 March 2020, 08:22 WIB

Pariwisata Sepi, Pemandu Wisata Alih Profesi Tanam Porang


John Lewar | Nusantara

WABAH virus korona (Covid-19) berdampak pada lesunya sektor pariwisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Sejumlah pemandu wisata kini banting stir menanam tanaman porang, karena sepinya kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo dan sekitarnya.

Stanislaus Stan, 48 yang sehari-harinya bergelut di usaha jasa pariwisata dan dive master, kini memulai usaha baru menanam anakan tanaman porang di Kampung Waemasa, Kecamatan Mbliling, Manggarai Barat. Stanis berhasil menanam 145 ribu tanaman porang dalam kurun waktu empat bulan sejak Desember 2019 hingga awal Maret 2020. Topografi Waemasa dengan iklim sejuk dan banyaknya pohon kemiri dan kopi, sangat cocok untuk budidaya tanaman porang. Dalam mengerjakan budidaya ini, Stanis bersama 20 pekerja lainnya.

Dia mengaku perkembangan pariwisata kian lesu, membuatnya memanfaatkan lahan di kampungnya sebagai pusat tanaman porang terbesar di wilayah Flores, NTT. Stanis menyebut dalam target hingga akhir 2020 ini rencananya akan mencapai satu juta lebih pohon porang yang ditanam.

"Empat bulan saja sudah 145 ribu lebih. Target saya satu juta pohon porang ditanam hingga akhir 2020. Tahun ini kita akan tambah 8 ha lagi agar bisa mencapai sesuai target," ujar Stanis, Selasa (10/3).

Diakuinya untuk pengadaan bibit masih minim. Padahal tanaman tersebut diekspor ke Jepang, Inggris, Korea, Jerman, Australida dan Prancis.

"Pembeli sudah ke sini dan telah melihat langsung. Juli ini kami diundang ke Jepang oleh pembelinya. Di Jepang saya akan mempresentasikan kondisi dan luas tanaman porang," kata Stanis.
 
Selama menanam anakan porang dia telah mengeluarkan dana sebesar Rp70 juta. Uang itu juga untuk biaya pekerja dan membeli bibit dari warga.

"Setiap rumah tangga di sini memiliki 5000 pohon tanaman porang. Berawal dari mereka melihat saya menanam dalam jumlah banyak kemudian mereka ikut. Yang lebih bahagia lagi pembeli datang dari luar negri menawarkan harga fantastis. Umbi porang kering per kilonya dibeli Rp80.000/kg," terangnya.

Kepala Dinas Pertanian Manggarai Barat, Anggalinus Gapul membenarkan bahwa saat ini para petani di Kecamatan Mbliling sibuk menanam tanaman porang. Hampir semua pemilik rumah memiliki tanaman ini. Rata-rata di atas 5000 pohon porang. Target pemasarannya di luar negeri karena banyak konsumennya. Disebutkan Anggalinus, tiga tahun belakangan ini masyarakat Manggarai Barat sudah memulai memanen porang yang tumbuh secarah liar di hutan. Setelah bernilai jual tinggi baru porang mulai dibudidaya.

baca juga: 27 Korban Kecelakaan Speedboat di Kalteng Ditemukan

Menurut catatan dinas pertanian, ada 1.750 ha tanaman porang sudah mulai dibudidaya warga. Dia mengakui warga masih kesulitan mendapatkan bibit. Rencananya pada 2021 akan disuplai bibit ke warga.

"Kita tengah menyiapkan bibit untuk didistribusikan pada 2021. Jika nantinya bibitnya kurang, bisa kita datangkan dari luar Flores," kata Anggalinus.

Selain bantuan bibit, dinas pertanian juga membantu pupuk cair untuk memupuk tanaman porang di lahan seluas 500 ha. Saat ini ekspor umbi porang terbesar adalah Jepang. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT