10 March 2020, 09:15 WIB

Uni Eropa Sepakat Tampung Anak-Anak Imigran di Yunani


Nur Aivanni | Internasional

LIMA negara Uni Eropa (UE) sepakat menampung beberapa anak imigran yang terjebak di Yunani di tengah berlanjutnya ketegangan di perbatasan Yunani-Turki. Kelima negara tersebut adalah Finlandia, Prancis, Jerman, Luksemburg, dan Portugal.

Namun, jumlah anak-anak imigran yang ditampung per negara belum diumumkan.

Sementara itu, dikutip dari BBC, Senin (9/3), media Jerman mengatakan secara total mencapai 1.500 anak. Mereka adalah anak-anak yang dikategorikan tidak didampingi dan/atau sangat sakit.

Kamp-kamp imigran Yunani terlalu padat. Puluhan ribu imigran dan pengungsi terjebak di perbatasan darat Turki dengan Yunani, tempat penjaga perbatasan Yunani menembakkan gas air mata dan meriam air untuk mencegah mereka masuk ke wilayahnya.

Baca juga: AS Mulai Tarik Pasukan dari Afghanistan

Para imigran dan pengungsi tersebut adalah warga Suriah yang melarikan diri dari perang saudara, tetapi ada juga sebagian dari mereka adalah warga Afghanistan, Pakistan, dan Afrika Barat yang mencari kehidupan baru di UE.

Dalam seminggu terakhir, lebih dari 1.700 imigran telah mendarat di Lesbos dan beberapa lainnya di Pulau Aegean Yunani dengan kapal dari Turki. Beberapa penduduk setempat yang marah melakukan kekerasan di Lesbos.

Pada Senin (9/3) malam, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan pembicaraan di Brussels dengan Presiden Dewan Eropa Charles Michel dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Pada konferensi pers, von der Leyen mengatakan Turki harus memindahkan para pencari suaka dari perbatasan darat, sebagai bagian dari solusi untuk krisis imigran.

"Kami mengharapkan hak-hak dasar ditegakkan, termasuk hak untuk suaka," tambahnya.

Peningkatan jumlah terbaru di perbatasan Yunani terjadi setelah Turki mengumumkan akhir pekan lalu bahwa mereka tidak akan lagi menghentikan mereka yang mencoba memasuki Yunani.

"Kami menyadari Turki melakukan banyak hal, mengurus jutaan pengungsi, dengan bantuan kami," kata Von der Leyen.

"Kita perlu berbicara dengan sangat jelas tentang fakta bahwa apa yang terjadi pada akhir pekan lalu tidak bisa terjadi lagi. Kita perlu strategi kedepannya untuk memastikan eskalasi semacam itu tidak terjadi lagi," katanya. (BBC/OL-1)

BERITA TERKAIT