10 March 2020, 07:18 WIB

AS Mulai Tarik Pasukan dari Afghanistan


Nur Aivanni | Internasional

AMERIKA Serikat (AS) mulai menarik pasukan dari Afghanistan sebagai bagian dari kesepakatan dengan Taliban yang bertujuan membawa perdamaian ke negara itu.

AS sepakat mengurangi pasukannya dari sekitar 12.000 menjadi 8.600 dalam waktu 135 hari sejak penandatanganan perjanjian di Doha, Qatar.

Menarik pasukan AS dari Afghanistan adalah syarat dari perjanjian damai bersejarah yang ditandatangani AS dan Taliban pada 29 Februari 2020.

Pemerintah Afghanistan tidak ambil bagian dalam kesepakatan itu, tetapi diperkirakan akan mengadakan pembicaraan dengan Taliban.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. awalnya, mengatakan dia tidak akan mematuhi perjanjian untuk membebaskan tahanan Taliban sebagai prasyarat untuk pembicaraan langsung dengan kelompok militan.

Baca juga: PM Sudan Lolos dari Serangan Bom

Tetapi, dikutip dari BBC, Selasa (10/3), laporan mengatakan Presiden, yang dilantik untuk masa jabatan keduanya pada Senin, akan mengeluarkan keputusan untuk sedikitnya 1.000 tahanan Taliban yang akan dibebaskan minggu ini.

Kesepakatan damai itu nampak rapuh pekan lalu setelah AS melancarkan serangan udara sebagai balasan terhadap para pejuang Taliban yang menyerang pasukan Afghanistan di Provinsi Helmand.

Taliban menyerukan deeskalasi dan pada Senin (9/3), Kolonel Sonny Leggett, seorang juru bicara pasukan AS di Afghanistan, mengumumkan fase pertama penarikan pasukan Amerika.

Kolonel Leggett dalam sebuah pernyataan mengatakan AS mempertahankan semua sarana dan wewenang militer untuk mencapai tujuan mereka di Afghanistan meski pasukan ditarik.

Ketika penarikan pasukan AS dimulai pada Senin (9/3), ketidakstabilan politik yang baru mengancam prospek pembicaraan antara semua pihak di negara tersebut.

Dua upacara pelantikan terpisah, Presiden Ashraf Ghani dan saingannya Abdullah Abdullah, diadakan pada Senin (9/3). Komisi pemilihan Afghanistan mengatakan petahana Ghani menang tipis dalam pemungutan suara September tahun lalu, tetapi Abdullah Abdullah menuduh hasilnya curang. (BBC/OL-1)

BERITA TERKAIT