09 March 2020, 21:55 WIB

Kasus DBD Tinggi, Begini Langkah Pemkot Jaktim Atasi Sebarannya


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

JAKARTA Timur menjadi salah satu daerah terbanyak kasus Demam Berdarah Dengue di Indonesia dengan 161 kasus. Namun, jika ditilik lebih jauh jumlah itu menurun jauh dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 844 kasus.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Indra Setiawan mengatakan data tersebut memang benar tetapi pihaknya tetap harus waspada.

"Kalau dibanding tahun lalu di bulan yang sama selisih jauh. Tapi ini masih musim penghujan," kata Indra saat dihubungi Media Indonesia, Senin (9/3).

Indra menyebut kewaspadaan dan langkah antisipasi harus tetap dilakukan karena saat ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat ini masih masuk musim hujan.

Sehingga cuaca dan kelembaban di wilayah Indonesia masih mendukung perkembangbiakkan nyamuk Aedes Aegypti.

Baca juga : Dampak Banjir, Kasus DBD di Jaktim Tinggi

"Karena dari berita yang ada, di provinsi lain kasus cenderung tinggi. Jadi perlu diwaspadai," lanjut Indra.

Salah satu faktor yang menyebabkan Jaktim menjadi wilayah yang cukup tinggi kasus DBD adalah karena wilayah itu sering tergenang banjir di musim hujan.

Inilah yang menyebabkan timbulnya tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD terutama di area luar ruang yang sulit atau tidak terjangkau seperti barang bekas akan terisi oleh air hujan. Sampah-sampah ini menjadi tempat potensial perkembangbiakkan nyamuk penular DBD.

"Kondisi kelembaban udara di Jakarta saat ini merupakan kelembaban yang optimal untuk perkembangbiakan nyamuk, sehingga angka kepadatan populasi vektor saat ini dapat tinggi. Tingginya kepadatan populasi vektor saat ini jika tidak segera dilakukan upaya-upaya pengendaliannya maka akan menyebabkan tingginya angka penularan DBD pada minggu atau bulan-bulan berikutnya," jelas Indra.

Untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan kasus DBD di Jakarta Timur di waktu yang akan datang, saat ini Sudinkes dan puskesmas melakukan beberapa upaya antisipasi DBD di antaranya membangun sistem kewaspadaan dini dengan pemantauan kasus secara ketat melalui surveilans aktif berbasis Rumah Sakit dan Puskesmas serta surveilans Vektor secara mingguan untuk memantau kepadatan populasi vektor sebagai dasar upaya intervensi pengendalian.

Baca juga : Pemprov DKI Evakuasi 11 Warga Terkait Virus Korona

"Kedua, terus-menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, lintas sektor agar terus melaksanakan kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) di tujuh tatanan melalui gerakan satu rumah satu jumantik ( Jumantik Mandiri)," jelas Indra.

Langkah ketiga yakni mengaktifkan Korwil DBD sampai ke tingkat kelurahan, setiap Jumat turun ke daerah binaan untuk monitoring pelaksanaan PSN.

Keempat, melakukan pemetaan tempat-tempat potensial perindukan nyamuk penular DBD (RW Rawan DBD) untuk segera dilakukan intervensi pengendalian vektor sebagai antisipasi peningkatan kasus DBD melalui peningkatan frekuensi PSN menjadi dua kali seminggu.

"Larvasidasi massal baik di dalam maupun diluar rumah termasuk area terbuka yang selama ini tidak termonitor serta melakukan pembinaan teknis terhadap kader jumantik dengan berkoordinasi dengan lintas sektor.(OL-7)

BERITA TERKAIT