09 March 2020, 15:47 WIB

Ali Imron: Intoleransi Semakin Brutal Sejak Kasus Ahok


Rudy Polycarpus | Politik dan Hukum

ALI Imron, terpidana seumur hidup bom Bali I mengaku terusik dengan perilaku intoleransi yang semakin berkembang di tengah masyarakat.

Bahkan, ia menilai sikap intoleransi itu semakin subur sejak kasus penistaan agama yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

"Saya ikuti gonjang-ganjing itu pascakasus Ahok. Di media, di mana-mana, masyarakat ini, yang muslim maksudnya, kok lebih brutal dari teroris. Maksudnya dalam komentar, dalam yang berhubungan dengan intoleransi dan antikeberagaman," ujarnya dalam diskusi bertajuk 'Intoleransi dan Tantangan Kebhinnekaan" dikutip dari channel Youtube milik 164 Channel-Nahdlatul Ulama.

Sebagai napi kasus terorisme kelas wahid di Tanah Air, Imron tidak habis pikir dengan perilaku tersebut. Menurut Imron, tiada orang lain di Indonesia yang keterlibatannya sebesar dirinya di kasus terorisme di Indonesia.

"Barang bukti saya 2 ton bom, (senapan) M16 ada 7 pucuk, peluru ribuan. Saya ini kalau radikal sudah paling atas. Tapi ketika lihat kasus Ahok, lalu pilpres, saya sampai geleng-geleng," tandas adik Amrozi, terpidana mati kasus bom Bali itu.

 

Baca juga: Jokowi Dianggap Tutup Mata soal Maraknya Intoleransi

 

Pillada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 banyak memakai atribut SARA yang memicu intoleransi.

Padahal, tegas Imron, toleransi merupakan fondasi Islam. Sehingga, masyakat yang mengusung intoleransi, berarti tidak mengikuti ajaran Islam.

"Toleransi adalah bagian dari akhlak Islam. Kebinekaan atau keberagaman ini sunnatullah. Hukum alam tidak bisa kita tolak dan tidak bisa ditentang. Kalau kita menentang, berarti kita menentang sunnatullah," pungkasnya. (OL-8).


 

BERITA TERKAIT