09 March 2020, 15:45 WIB

Cuaca Ekstrem, Nelayan Bengkulu Tidak Melaut


Marliansyah | Nusantara

Ratusan orang nelayan yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Bengkulu tidak melaut akibat cuaca ekstrem selama sepekan terakhir. Tujuh kabupaten/kota yang dimaksud adalah Mukomuko, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Kaut, Bengkulu Selatan, Seluma, dan Kota Bengkulu

Buyung, 40, nelayan di Desa Pondok Kelapa, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah mengatakan dirinya sudah sepekan terakhir tidak melaut karena gelombang tinggi.

"Nelayan sudah satu pekan terakhir tidak turun melaut mencari ikan karena cuaca buruk. Gelombang di tengah laut juga tinggi akibat cuaca yang tak menentu," katanya.

Jika memaksakan untuk melaut, lanjutnya, akan membahayakan terhadap keselamatan. Padahal, dalam kondisi seperti ini, nelayan juga jarang mendapat ikan.

Saat ini banyak nelayan yang menganggur. Lalu sambil menunggu cuaca kembali baik, sebagian nelayan memperbaiki alat tangkap atau
menjadi buruh bangunan.

Baca juga: Nelayan di Malang Berhenti Melaut dan Geser ke Pacitan

Bujang, 32, nelayan di Kelurahan Malabero, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu mengatakan dengan kondisi cuaca yang tak menentu sebagian nelayan lebih memilih untuk menepikan perahunya.

"Sumber mata pencarian hidup sehari-hari nelayan hanya menangkap ikan. Namun, dengan kondisi seperti ini maka penghasilan tidak ada karena kami hanya menganggur saja di rumah," imbuhnya.

Untuk sekali turun melaut, kata Bujang, dibutuhkan biaya Rp150 ribu untuk BBM dan operasional. Sekali melaut, ada tiga orang nelayan yang bekerja untuk membantu menjaring karena jaring ikan yang dibawa mencapai belasan jaring.

Kepala Stasiun Klimatologi Bengkulu Kukuh Ribudiyanto mengatakan prakiraan cuaca hujan dan angin kencang saat ini akan berlangsung sampai bulan April mendatang.

"Saat ini, BMKG telah mengimbau kepada nelayan dan masyarakat di Provinsi Bengkulu, agar selalu waspada dan terutama para nelayan untuk sementara tidak melaut. (OL-14)

BERITA TERKAIT